“Apa yang harus saya lakukan, Pak?”
“Cukur rambut dan pakai jas-dasi, Pak.”
“Baik, Pak.”
“Tolong buatkan programnya, Pak. Sampai tahun 2025. Kalau bisa, bentuknya pe de ef, supaya kami cetak dan bagikan ke Dinas Perpustakaan di seluruh Indonesia.”

Kabar ini saya sampaikan kepada istri. Tentu isteri gembira, karena ini termasuk do’a yang selalu dipanjatkan. Tapi begitu mendengar rambut harus dipotong Tias berpikir lama. Ya, Tias senang jika aku gondrong.


“Bagaimana dengan rambut?”
“Ya, tidak apa-apa. Nanti juga bisa gondrong lagi. Sekarang mengabdi dulu kepada negara. Bukankah ini yang kita mau?”

Tias mengingatkan do’anya sewaktu di Medan, yaitu ada orang gila yang kaya atau dinas atau perusahaan yang membiayai seluruh kegiatan saya di dunia literasi, seperti “Gempa Literasi“.

Sekarang hari Rabu. Ada waktu 2 hari untuk mempersiapkan segalanya. Membeli jas, celana, dasi, dan menghubungi putra kedua Gabriel Firmansyah di Abu Dhabi membuat program kerja dalam bentuk PDF.
Bersambung ke bagian 7


