“Aa ingin beli tanah itu,” katanya serius. Aku mulai hafal setiap keinginannya. Meski suka mendebat, ada beberapa hal yang cukup kudengarkan.
“Aamiin. Semoga tercapai,” doaku juga serius.”Nanti Mamah bisa membuat perpustakaan di sana!” kata suamiku lagi sambil memandang jauh ke tanah yang tampak seluruhnya tertutup ilalang tinggi.

Setelahnya, kami dilibas kesibukan kembali. Suamiku bekerja di Jakarta, aku tinggal di Serang. Anak pertama kami sedang lucu-lucunya, dan janin yang kukandung menunggu saat kelahiran.
Sementara itu kegiatan membaca tetap berjalan tanpa jadwal khusus. Kadang kami meninggalkan rumah di akhir pekan tanpa sempat memberitahu anak-anak. Esoknya mereka bercerita beberapa kali menyambangi rumah kami dan memanggil, tapi tak ada yang membukakan pintu.

Suamiku lalu punya ide untuk menyimpan buku-buku di teras samping. Jadi tak perlu saling menunggu. Aku bebas bepergian kapan pun tanpa khawatir anak-anak menunggu untuk dapat membaca buku.
Anak-anak senang dengan ide itu. Mereka hanya perlu menguluk salam dan masuk pagar, lalu ke teras samping. Jika aku ada di rumah, aku menemui mereka. Jika tidak, berarti kami sedang bepergian.

Begitu pola berjalan, sampai suatu sore di hari Minggu kami sampai rumah dari bepergian. Aku melihat pintu gerbang setengah terbuka. Rupanya hari habis hujan deras. Segera kutengok teras samping. Alangkah sedihnya aku melihat buku-buku berserakan di sekitar kardus, sebagian terkena air hujan. (*)
Rumah Dunia, 4 Maret 2024



