Aku mendapat dukungan penuh dari Nek, panggilan ibu mertuaku. Beliau bersedia mengajar anak-anak yang datang. Biasanya Nek bercerita kisah-kisah Nabi dan Rasul. Segera saja anak-anak itu mendapat tempat curhat selain aku. Hahaha.

Lalu tiba-tiba ada kabar dari suamiku, yang mendapat rezeki cukup besar dari karyanya yang dibeli sebuah production house. Namun, suamiku minta kerelaanku uang itu akan dibelikan tanah di belakang rumah, seluas seratus meter persegi.

Tanah tempat ilalang tinggi itu tumbuh, pikirku. Aku bersyukur sekali sebagian cita-cita suamiku tercapai. Saat suamiku pulang adalah momen kami merencanakan pembelian tanah, lalu merancang bangunan, dan menghitung biayanya. Kami masih merahasiakan hal ini dari mertuaku, biar jadi kejutan saja.
Tetapi kejutan itu harus terbongkar lebih awal, ketika malam-malam ada dua orang warga kampung terdekat yang datang mencari suamiku. Mereka berbicara masalah tanah yang akan dibeli suamiku. Aku yang tidak ingin salah bicara lalu minta mereka datang di akhir pekan saja. Mereka setuju, lalu pamit.

Ketika membuka pintu rumah, aku terkejut karena ibu mertuaku sedang duduk di kursi. Beliau menatapku dengan curiga. (*)
Tias Tatanka, Rumah Dunia, 5 Maret 2024


