Sejarah Rumah Dunia 17: Seratus Meter Persegi di Belakang Rumah

Aku selalu percaya, kebaikan yang ditujukan untuk orang tua akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Makanya aku tidak ingin mengganggu niat baik suami untuk kedua orang tuanya.

Jika membutuhkan sesuatu yang memakan biaya, aku akan minta jauh-jauh hari. Jadi suami akan bersiap-siap. Atau jalan lainnya adalah aku membeli sendiri dengan honor menulis yang tidak besar tapi cukuplah buat jajan.

Benarlah, ada banyak kemudahan dalam mendapat rezeki, sehingga kami dapat membereskan tanah belakang rumah. Suamiku menjebol dinding dan memasang pintu besi sebagai akses. Kami seperti melangkah ke dunia yang lebih luas: seratus meter tanah kosong.

Namun, mimpi suamiku pun ikut meluas. Suatu hari ketika selesai bertemu si empunya tanah, suamiku bilang padaku, “Aa beli empat ratus meter lagi, ya? Biar lima ratus meter sekalian. Yang punya tanah kasih harga bagus, dan bisa dicicil!”

Tias Tatanka, Rumah Dunia, 7 Maret 2024

Aku bengong. Ini bukan permintaan membeli sesuatu yang ringan. Masalahnya, kami belum ada uang. Bagaimana cara mencari uangnya? Bagaimana jika kami tidak sanggup mencicilnya? Banyak ‘bagaimana’ yang menjadi hambatanku mengiyakan.

Tetapi, bukan Pak Gong namanya kalau mudah menyerah. Begitu aku terbujuk setuju, ia langsung mengatur strategi bekerja. Targetnya dua sekaligus: membeli tanah empat ratus meter persegi lagi dan membangun rumah untuk orang tuanya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==