Sejarah Rumah Dunia 18: Dari 100 Menjadi 500 Meter

Suamiku menyiapkan jalan menurun dari pintu besi menuju teras semen seluas dua kali tiga meter persegi. Ini akan memudahkan bapak mertuaku jika ingin berkunjung ke tanah belakang. Gab, anak lelaki kami pun bisa main luncur-luncuran dengan skateboard-nya.

Kami membiarkan rumpun pohon pisang tempat kelelawar menggantung. Pagi-pagi aku sering mengajak Bella dan Gab menyapa kelelawar yang masih mengantuk.

Kami pun sering menggelar tikar dan sarapan pagi di teras semen itu. Kelelawar berangsur pergi, mencari tempat sunyi lainnya. Ah, siapa menyangka rezeki 100 meter kemudian menjadi 500 meter persegi. Tanah di halaman belakang kini semakin luas.

Suamiku mengusulkan agar kami memelihara itik. Ada enam ekor itik kami pelihara dalam kandang dekat rumpun pisang. Hampir setiap pagi mereka bertelur. Aku dan ibu mertua mengambil telur-telur itu sebelum terinjak oleh itik-itik yang polahnya terlalu aktif.

Salah satu bangunan pertama yang didirikan di tanah belakang itu adalah kamar mandi. Kami ingin bapak dan ibu mertua nyaman jika sedang di tanah belakang. Saat hendak ke kamar kecil tak perlu jauh-jauh ke rumah.

Saat malam hari, suamiku mengajak anak istri duduk di teras belakang untuk melihat langit malam. Hening sekali dan kami dapat mendengar suara jengkerik dengan jelas. Langit pun belum bias dengan lampu-lampu sekitar, bintang-bintang masih tampak pendarnya.

Kami sebentar saja di situ, karena ancaman nyamuk kebun akan segera menyerang. Hahaha. (*)

Rumah Dunia, 7 Maret 2024

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==