Sejarah Rumah Dunia 2: Membacakan Buku Cerita

Setiap selesai aku ceritakan tentang anak-anak yang sering datang di sore hari, suamiku menyarankan aku meminjamkan buku anak-anak yang kami punya. Biasanya aku membacakan buku-buku itu hanya untuk Bella. Buku-buku itu juga kesayanganku, yang diburu dan dibeli dengan susah payah. Aku agak tidak rela meminjamkan untuk orang lain.

“Bella masih punya buku lain, kan?” bujuk suamiku. “Itu buku-buku sudah lecek juga, sudah sering dibacakan buat Bella. Sudah saatnya ganti dengan bacaan baru.”

Ya, memang beralasan sekali, sih, kata-kata suamiku. Beberapa buku tebal yang kugunakan untuk membaca bersama bayi kami agak menyedihkan kondisinya. Lantaran sering digunakan, beberapa bagian terkelupas dengan mudah setelah terkena liur bayi.

Ada buku yang menjadi senjata penawar saat bayi kami tantrum. Begitu dibacakan buku tersebut, perhatiannya langsung teralihkan dan tangisnya reda.

Aku menimbang-nimbang lebih lama, ikhlaskah untuk meminjamkannya? Selama ini buku kesayangan itu kujaga baik-baik dan kubersihkan sebelum dan setelah digunakan. Aku cuma ingin menjaga buku-buku itu aman buat bayi kami.

“Gantilah buku Bella dengan yang lain, kalau Mamah khawatir. Siapa tahu Bella bosan dengan buku yang sama,” bujuk suamiku lagi.

Aku tidak ingin mendebatnya, mungkin sudah saatnya bayi kami diberi bacaan baru. Jadi, aku pun menyisihkan buku lama dan menyimpan buku baru di rak kecil. Buku lama kumasukkan ke dalam dus bekas.

Awalnya Bella menolak disodorkan buku baru. Dia mencari-cari buku minim kata yang bergambar Mickey Mouse. Aku harus berjuang mengenalkan buku baru untuknya.

Saat anak-anak sekitar datang lagi, aku menunjukkan buku-buku yang kusimpan dalam kardus. Aku keluarkan tumpukan buku itu dan menyebutkan inti ceritanya.

Tak disangka, Bella merengek minta buku Mickey Mouse kesayangannya yang terselip di situ. Aku mengalah, satu buku itu pun kembali ke rak buku kecil.

Namun, ada yang membuatku masygul dan sedih. Anak-anak itu tidak begitu tertarik membaca tumpukan buku itu. Mereka lebih suka bermain bersama Bella dan mengobrol denganku. “Berarti Mamah yang harus membacakan ceritanya,” kata suamiku ketika kusampaikan kejadian itu.

“Ah, mereka sudah bisa baca sendiri,” kilahku. Kupikir suamiku tipikal bapak-bapak yang sering mengira ibu-ibu punya kelebihan waktu luang.

“Tapi beda kalau dibacakan. Coba aja dulu,” bujuknya lagi.
Akhirnya aku bersedia menuruti sarannya. Aku menggelar karpet kecil di teras depan dan menyiapkan camilan. Sore-sore aku sudah menunggu anak-anak yang biasa datang.

Namun, sore itu dan sore berikutnya mereka tidak datang. Aku merasa ada sesuatu yang hilang di sore-sore itu. Saat menggulung kembali karpet dan membereskan toples makanan, aku merasa sepi.

Beberapa kali aku melongok ke luar pagar, berharap anak-anak akan muncul dari ujung gang. Beberapa kali itu aku kecewa. (*)

Rumah Dunia, 1 Maret 2024

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==