Aku pun mulai menetapkan jam buka pada siang hari, karena pagi hari adalah saat-saat Bella dan Gab masuk sekolah di kelompok bermain. Berbekal sepeda motor yang dibeli suamiku, aku makin leluasa mencari bahan-bahan untuk keterampilan tangan.
Bersama Bella dan Gab, aku menemani anak-anak sekitar mengikuti kegiatan yang berbeda-beda setiap harinya. Tak jarang suamiku pulang membawa belanjaan alat tulis, yang dibelinya di dalam bus dari pengasong. Mungkin nilainya murah, tapi sangat bermanfaat.

“Mamah, sepertinya sudah saatnya kita membuat kegiatan ini secara teratur,” bisik suamiku sehabis sarapan.
Aku mengangguk setuju dan senang dengan idenya.
“Papah ingin Banten ini maju. Kita mulai dari anak-anak kecilnya. Kita ajarin banyak ilmu, supaya kelak mereka bisa membangun Banten dengan cara mereka sendiri.” Lanjut suamiku.

Aku setuju. Sudah sering kudengar idenya untuk Serang dan Banten. Ia tak peduli komentar orang. Bagi suamiku, segala yang riang, harusnya Serang. Begitu pernah ditulisnya dalam sebuah sajak.
“Tapi Papah kan masih sering di Jakarta, jadi butuh Mamah untuk terus bikin kegiatan di sini,” kata suamiku lagi dengan hati-hati. “Artinya Mamah harus konsisten mengajari anak-anak. Nggak boleh capek, nggak boleh bosan. Anak-anak ini punya kesenjangan intelektual yang panjang. Harus terus dikompori dan dicekoki ilmu, biar gap-nya nggak terlalu jauh.”

Aku diam dan memperhitungkan segala hal. Sampai akhirnya aku berkata, “Ini akan menjadi kerja maraton, bahkan tak ada putusnya. Kalau Papah minta aku memulainya, jangan pernah menyuruhku berhenti.”
Suamiku menatapku dalam-dalam. Pasti ia tak menyangka aku bisa bicara begitu.(*)
Rumah Dunia, 8 Maret 2024


