Mungkin bagi sebagian orang tidak elok menceritakannya, tetapi ini fase penting bagiku dan layak diketahui. Kejadian ini menyadarkan aku untuk memperbaiki strategi dan menguatkan langkah.
Suatu sore, saat aku sedang membaca buku di depan anak-anak kampung, dan mereka tertawa-tawa karena leluconku, ada sebutir batu kecil melayang masuk. Untung tidak ada yang terkena.

Anak-anak pun terkejut, tapi kubilang itu batu kecil dari tembok. Tapi aku tidak berkutik ketika ada lemparan lagi. Anak-anak bertanya apakah tetangga sedang marah. Aku beralasan mungkin terganggu dengan tawa yang keras. Jadi kuminta anak-anak tidak bersuara keras mulai hari itu.

Lucu juga, sih, melihat mereka bicara pun akhirnya dengan bisik-bisik. Ketika tertawa pun mereka terkekeh tanpa suara.
Sebuah kondisi yang berbeda dengan saat anak komplek yang datang. Tak ada lemparan batu, dan aku pun tidak bercerita soal itu ke anak-anak. Agak miris melihat dua kondisi ini.

Aku sempat mengeluh ke suami, dan pernah minta izin untuk klarifikasi ke tetangga. Tapi suamiku melarang keras. Aku dimintanya bersabar menghadapi ketidaksukaan orang. (*)
Rumah Dunia, 3 Maret 2024
Catatan: Kondisi ini tahun 1998-an ya, jadi berbeda dengan kondisi sekarang.



