Suhemi: Inspirasi Bisnis Kerupuk dari Tetangga

Suhemi bercerita, dulu ia dan Asep, salah satu kawannya belajar menggoreng kerupuk dari bos Udin, yang rumahnya dekat dengan Pondok Pesantren Al Falahiyah, Grobogan, Desa Sukamulya, Tangerang. Di ponpes iu, Suhemi dulu mondok, sejak 2000 – 2009.
“Dulu saya dan Asep sering diminta bantu-bantu goreng kerupuk oleh bos Udin. Dikasih uang 10 ribu plus kerupuk untuk makan anak-anak pondok. Gorengnya dari pukul 22.00 hingga larut malam. Itu enggak menggagggu jadwal kami ngaji,” cerita Suhemi, Jumat (7/15/2022).

Suhemi yang tinggal di Kampung Masjid, Desa Talok, Kecamatan Kresek, Tangerang ini mengaku sudah senang dalam dunia berdagang sejak lulus dari MTs Al-Khairiah Kresek.

Ia mengenang, pagi-pagi dirinya berjualan mainan anak-anak di pasar Jakarta. Siang harinya kerja di Mall Mangga Dua Jakarta menjadi Sales Promosi Man selama enam tahun.

“Setelah dari Mangga Dua, saya pengen usaha mandiri. Lalu jualan bakso sama teman orang Sukabumi. Tapi itu bertahan dua bulan saja. Gara-garanya waktu itu ada isu bokso daging tikus yang sempat ramai. Jadi bakso saya enggak laku. Sebelum ada isu itu, bisanya dapat 20-30 porsi. Karena masih baru. Setelah ada isu itu, jadi menurun cuma 5 porsi. Akhirnya gulung tikar,” kenang suami dari Hasnah (42) ini.

Semangat bisnisnya tak sampai surut. Suhemi terus mencari ide bisnis yang lain. Ia kemudian lari ke bisnis menjual ikan di daerah Ceplak, tapi bertahan hanya satu tahun.

Diakui ayah dari tiga anak ini, dirinya memulai bisnis kerupuk pada 2010. Waktu itu ia membuat sendiri dengan dibantu satu teman. “Saya yang modalin. Modal awal waktu itu Rp.120.000,-. Saat dijadikan kerupuk, untung bersihnya bisa mencapai Rp.500.000,- waktu itu harga minyak sayur sedang murah. Dulu saya jual satu kerupuk dalam kemasan 500,-rupiah. Per rangingnya ada 10 kerupuk. Satu ranting dijual dengan harga empat ribu rupiah,” paparnya.

Awal berjualan kerupuk, Suhemi mengaku hanya membuat 100 ranting. Karena belum punya pelanggan. Kadang dari 100 ranting itu habis separuhnya. Kadang laku semua.

Ia masih ingat, dulu jualan kerupuk masih pakai motor Honda CB. Satu hari, saat lewat jembatan kayu menuju pasar Bolang, motor CB yang dike darai Asep terpeleset. “Waktu itu pas hujan.  Maang Asep yang bawa motor CB. Saya pake motor lain. Kerupuk yang dibawa Mang Aseo pada kotor dan ada yang hanyut ke kali. Udah ga bisa diambil. Kebawa arus,” kenangnya.

Ia akhirnya memilih fokus bisnis kerupuk, karena banyak orang yang suka makan kerupuk. “Bisnis berjualan kerupuk menurut saya kerupuk terus eksis. Banyak yang suka. Pemasarannya juga mudah. Banyak peminat,” paparnya.

Kini Suhemi memiliki 7 pegawai. Dua orang bagian goreng kerupuk. Lima orang di bagian bungkus kerupuk.

Suhemi, biasa memproduksi kerupuk mentah mencapai 50 kg. Jika sudah digoreng dan dikemas jadi sekitar 3.000 bungkus. Keuntungan bersih per 50 kg kerupuk itu Suhemi bisa untung bersih 1.500.000.

“Alhamdulillah, dari jualan kerupuk saya bisa nikah, bangun rumah, sekolahin anak. Karena saya kan sebelum nikah sudah jualan,” jelasnya.

Suhemi punya pesan buat anak muda yang ingin memulai bisnis. “Buat anak muda, kalau ingin fokus bisnis, yang pertama mental dulu. Jangan takut, jangan ragu dan jangan malu. Percuma, kalau modal ada tapi malu orangnya? Kan repot,” pungkasnya.

Bangi yang ingin memesan kerupuk, bisa langsung datang ke rumah Suhemi. Atau pesan lewat no WA 085714379140. (*)

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==