Bulan- bulan pertama berjalan sangat berat karena sudah mulai kuliah. Dan aku bukan mengambil kuliah di kelas karyawan, tapi sebagai mahasiswa regular. Ditambah dengan jadwal kerja shiftku yang delapan jam, membuat waktuku sebagian besar habis di luar rumah. Kerja, kuliah, dagang.

Bahkan pernah aku menggelar lapak di depan Mesjid Agung Cilegon, walaupun hanya beberapa saat, karena ketika itu aku sudah tidak mempunyai uang sama sekali.
Konsumenku tadinya masih sebatas tetangga dan teman-teman satu pekerjaan. Aku masih harus turun sendiri menjajakan daganganku. Mereka boleh membayar setelah gajian, dan bahkan ada yang aku beri kemudahan untuk mencicil, tanpa tambahan harga sepeser pun.
Beberapa bulan usahaku sukses walau sangat menyita waktu dan energi. Aku sempat keteteran untuk berjualan dan bolak-balik Cilegon-Bandung hampir setiap akhir pekan.

Sampai akhirnya bala bantuan datang.
Ada empat orang teman- temanku yang membantu berjualan. Ada guru TPA tetangga, dan sisanya teman- teman mengajiku di Remaja Islam Mesjid. Aku beri mereka sistem konsinyasi (hanya membayar harga setelah diskon untuk barang yang laku).
Alhamdulillah, berkat izin Allah dan bantuan dari teman- temanku itu usahaku mulai berkembang.
Aku bisa menambah jenis produk jualan dengan menjalin kerjasama dengan agen- agen produk Islami di Tanggerang dan Bandung.

Tahun kedua berjalan sangat mulus seperti mulusnya jalan tol.
Bahkan di tahun ini, ada tujuh orang teman yang membantu menanam modal.
Perputaran uang yang kutangani ketika itu hampir empat belas juta rupiah.
Puncaknya adalah ketika aku bisa mengikuti sebuah pameran di Banten: Banten Islamic Fair. Di pameran ini, aku mencatat rekor penjualan tertinggi.

Total pendapatanku kala itu setidaknya delapan setengah juta.
Biaya sewa stand yang cukup mahal, lima ratus ribu rupiah untuk tujuh hari saja, dan tujuh hari aku cuti setimpal dengan apa yang aku dapatkan.
Aku mendapat rejeki nomplok dan investor pun tersenyum lebar.

Tapi momen terbaik itu juga ternyata adalah awal dari malapetaka badai krisis keuangan yang melanda tidak lama kemudian.
Usaha itu ambruk dalam sekejap, hanya beberapa minggu setelah mencatat keuntungan tertinggi.
Sebenarnya faktor yang menyebabkan ambruknya usahaku ini tidak hanya satu.

Tapi penyebab utamanya karena pengelolaan uang yang kurang baik.
Dengan kondisiku yang harus membayar kuliah yang lumayan mahal, seringkali uang yang terkumpul dari bisnisku itu terpakai untuk membayar SPP.
Kondisi bisnisku semakin limbung ketika salah satu investor mendadak ingin menarik investasinya di kala kondisi bisnis sedang bagus- bagusnya. Dia beralasan karena dia akan menikah dan butuh dana untuk menambah biaya pernikahannya.

Aku sedang menerima pesanan yang lumayan banyak ketika itu. Karena kekurangan dana untuk membeli barang, dengan sangat terpaksa aku tolak dan melewatkan keuangan jutaan rupiah di depan mata.


