Ditambah lagi teman- temanku yang membantu bisnisku mundur teratur dengan alasan menjelang UAS di kampus dan sekolahnya.

Beberapa minggu kemudian para investor lain juga melakukan hal yang sama.
Mereka juga menarik semua modalnya.

Mereka beralasan bahwa, kenapa si A bisa melanggar perjanjian yang menyatakan bahwa dana investasi tidak bisa ditarik sebelum dua tahun sesuai kesepakatan awal.
Karena aku sudah tidak mempunyai dana, yang ada hanya stok barang, aku pun kelimpungan mencari dana untuk mengembalikan dana para investor yang kini sudah berkembang lumayan besar.

Kala itu aku harus mengembalikan setidaknya tujuh juta rupiah.
Akhirnya ada jalan yang kutemukan, walaupun tadinya ingin kuhindari.
Aku pun berhutang ke bank.
Dan, pada akhirnya runtuhlah bisnis yang sudah dua tahun kurintis bersama teman- teman, ketika sudah tidak ada lagi dana untuk membeli pesanan barang jualan sisa pun berakhir menumpuk penuh debu di sudut kamar kontrakanku.

Kali ini aku sah mengalami kebangkrutan.
Kunci utama ketika kita di perantauan adalah harus pandai-pandai mengelola keuangan. Jangan sampai kita berbelok dari mewujudkan impian, malah menjadi sekadar berusaha untuk survive aja di negeri orang.



