Literasi Keluarga: Ketika Bercermin, Aku Baru Sadar Berlengan Satu

Tangan kiri saya diamputasi pada usia 11 tahun, kelas 4 di SDL XI Kota Serang, tahun 1974, Banten. Kata Bapak, “Kamu harus baca buku dan olahraga. Dengan melakukan dua hal itu, kamu akan lupa bahwa kamu memiliki kekurangan.” Alhamdulillah, saya mengikuti anjuran Bapak dan memetik hasilnya selagi hidup. Surga itu sudah Allah berikan kepada saya selagi masih hidup. Semoga di akhirat pun saya mendapatkannya.

Bonus Atlet Peraih Medali Emas Harus Besar, agar di Hari Tua Tidak Sengsara

“Greys dan Apri akan mendapatkan bonus Rp. 5 Milyar,” tegas Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia,  Zainudin Amali. “tanpa dipotong pajak!” tambahnya. Saya juga pernah menerima bonus Rp. 1 juta dari medali emas double putera badminton di Pesta Olahraga Penyandang Cacat se Asia Pasific, Kobe, Jepang 1989.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menyabet medali emas pertama untuk kontingen Indonesia di cabang olahraga paling populer di negeri Indonesia , yaitu bulu tangkis ganda putri Olimpiade Tokyo 2020. Mereka melibas pasangan China – Jia Yifan/Chen Qingchen, tanpa ampun dua set langsung, 21-19 dan 21-15 di Musashino Forest Sports Plaza Tokyo, Senin (02/08/2021). Mereka tercatat dalam tinta emas setelah ganda putera kita – Ricky Subagja dan Chandra Wijaya meraih medali emas Olimpiade Barcelona, 1996.

Duta Baca Indonesia Menyabet 3 Emas Badminton di Fespic Games IV 1986 di Surakarta

Aku masih ingat peristiwa bersejarah itu. Ada baligo bertuliskan “Selamat Datang Para Atlet Fespic games IV, 31 Agustus – 7 September 1986 di Solo, Kecacatan Bukan Penghalang untuk Berperestasi”.

Aku jadi atlet Indonesia di Pesta Olahraga Cacat se Asia Pasific ke empat atau Far East and South Pacific Games for the Disabled atau Fespic Games IV . Aku menyabet 3 medali emas di cabang badminton kelas amputi tangan; single, double, dan beregu.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)