Dunia Tidak Seluas Smartphone!

Catatan Ringan Oleh Gol A Gong

Smartphone, ponsel cerdas atau telepon genggam kini merajalela. Saya merasa beruntung jadi “manusia tiga zaman” – pernah menulis dengan mesin tik (80-an), komputer (90-an), dan smartphone di era 2000-an setelah membaca buku “Pelajar Siap Digitalisasi” karya 21 peserta didik SMAN 2 Banjar, Jawa Barat.

Tentang Covid-19, Serahkan Kepada Ahlinya…

Dalam kondisi trend Covid-19 yang meninggi, memang, yang sudah punya dasar berolahraga sejak kecil, diuntungkan. Apalagi ketika tidak memiliki penyakit bawaan.

Saya lebih memercayai setiap sakit pergi ke dokter. Bertanya kepada ahlinya. Setelah dokter memberi tahu penyakit saya, tentu saya mengikuti saran dokter, kemudian mensugesti diri dengan kegiatan positif. Saya tidak percaya pengobatan herbal yang instan. Herbal itu harus jadi kebiasaan sejak kecil seperti halnya berolahraga….

Setahun Covid-19, Akhirnya Kena Juga…

Maret 2021. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat mengucapkan, “Selamat ulangtahun, Covid-19. Pendek umur, segera binasa.” Ya, binasa. Jangan ada perayaan tahun kedua.

Setelah satu tahun bertahan, sementara orang-orang sudah divaksin dan merencanakan ini-itu…

Akhirnya yang saya takutkan terjadi. Setelah saya isoman 10 hari, sejak 27 Februari 2021, pada 8 Maret saya negatif walaupun bayang-bayang Covid-19 masih ada, kata dokter. Kini sampai 11 Maret 2021, masih tersisa batuk berdahak.

Selamat Jalan, Abdul Hamid!

Saya sedang menguras kolam ketika Istri saya mengabarkan Abah Hamid meninggalkan kita semua karena Covid-19. Setelah dirawat selamat seminggu di RS Gatot Subroto, 3 hari ke belakang koma. Saya membayangkan, bagaimana kalau itu terjadi kepada saya? Innalilahi… Terbayang beberapa peristiwa politik lokal yang penting pernah saya, Firman Venayaksa , dan Abah Hamid lalui.Saya teringat bersama relawan Rumah Dunia pernah menyatroni kantornya di Untirta untuk playlist “Gonjlengan” di akun YouTube GolAGong TV.

Puisi Itu Pengalaman Puitik Penulisnya

Seminggu di bulan akhir November 2020 ini saya merenung. Pertikaian agama, Covid-19, masker, dakwah, nabi, imam besar, presiden, gubernur, koruptor, Pilkada serentak memnuhi kepala. Saya sedih karena tidak mampu berbuat apa-apa. agama dan politik, betapa rumit.

Maka jadilah puisi di bawah ini. Jangan takut puisi yang kita tulis dicap jelek. Kalau dikritik sampah, jangan marah atau putus asa. Biarkan saja. Tugasmu mendokumentasikan perasaanmu sudah selesai. Tulis lagi puisi yang lain dan jadikan kritikan tadi penyemangat untuk memperbaiki diri.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)