Ayo, kita menulis fiksi mini. Nanti satu buku dengan saya. Eh, pasti ada yang belum ngerti fiksi mini, ya. Makanya, ayo segera registrasi ke Risma WA 0895 0894 3674
31 Agustus 2024: Menulis Fiksi Mini Bersama Gol A Gong

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Ayo, kita menulis fiksi mini. Nanti satu buku dengan saya. Eh, pasti ada yang belum ngerti fiksi mini, ya. Makanya, ayo segera registrasi ke Risma WA 0895 0894 3674

Saya sebagai orang tua, ketika membaca tulisan di buku ini, ikut merasakan betul perjuangan mereka mengumpulkan persyaratan untuk menerima beasiswa, dana yang terbatas tidak mengendorkan semangat mereka meraih beasiswa. Tanpa terasa kedua mata saya basah. Mereka adalah anak-anak saya juga.

Rumah saya itu bikin betah. Seru. Semua aga. Flora dan fauna. Udara jad adem karena banyak pohon.

Segalanya dimulai dari pikiran. Jika kamu mengawalinya dengan pikiran negatif, maka hari-harimu aromanya negatif. Selalu berpikir positif, ya. Jangan lupa bersyukur.

Gol A sebagai Duta Baca Indonesia bersama Perpustakaan Keliling Rumah Dunia berkolaborasi
untuk mensukseskan Gerakan Literasi Sekolah meluncurkan program “Duta Baca Indonesia Masuk Sekolah”. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia setuju dan mendukung.

Lokasinya di puncak bukit. Jalannya kecil dan berkelok. Sungguh luar biasa semangatnya. Anak-anak yang tinggal di kota harus malu jika hidupnya santai. Mereka butuh buku.

Jangan kuatir, nanti Gol A Gong yang akan menghubungi kita. Aktifkan saja HP-mu jika Gol A Gong sedang berada di kota kita. Kira-kira begitulah Gol A Gong. Jika dia datang ke sebuah kota, maka yang akan dicari adalah: pegiat literasi. Itu bisa saja kamu.

Saya sebagai Duta Baca Indonesia berkunjung ke sini dan berkampanye literasi. Lapangan SMP Rumah Rindu Panca Marga, Koli, Adonara Barat, Sabtu 3 Agustus 2024, ramai. Bu Kepsek mengalungi saya selempang khas Flores Timur.

Siapa yang menduga bahwa saya akan jadi Duta Baca Indonesia menggantikan Najwa Shihab? Tidak ada. Tapi amanah dari Perpstakaan Nasional RI ini harus saya jalankan dengan baik. Saya harus memenuhi target yang Perpusnas inginkan.

Menjaga penampilan memang perlu. Kenapa? Supaya orang-orang tidak bosa. Banyangkan, sehari bisa 2-4 titik kegiatan. Tentu harus berganti pakaan dan menyeimbangkannya dengan asesori topi.

Menulis itu harus dirasakan, jangan hanya dipikirkan. Dengan dirasakan, kita akan melukis kertas dengan kata-kata yang seolh hidup. Itulah showing. Masih banyak penulis pemula yang ketika menulis langsung memberi tahu alias telling. Bolehkah? Boleh. Tapi cobalah teknik showing.

Souvenir, kok, nomor polisi mobil atau motor? Bukannya kain batik atau kopi. Ya, tidak apa-apa. Tapi souvenir jenis ini tentu unik.
Sebetulmua apa yang terjadi di negeri kita? Ada banyak komunitas literasi, tapi masih saja dihakimi dengan sebutan; literasi kita rendah. Bagaimana ini?

Karya pertamaku adalah puisi, 1981. Ya, aku lahir dari rahim puisi. Tapi kemudian karena honorariumnya sedikit, aku memilih menulis prosa. Cita-citaku setinggi langit, selain keliling dunia juga membangun gelanggang remaja seperti Ali Sadikin bangun di Jakarta. Idealisme itu butuh ongkos. Maka pelan-pelan mimpi itu dirawat di rumah. Bapak dan Emak membangun literasi keluarga yang sehat.

Para santri antusias menyimak paparan saya tentang “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat”. Ada alumnus hadir; dia mendapat beasiswa kuliah di Pertamina, Jakarta. Dia sedang liburan.

Berkawan dengan Gola Gong, bukan hanya bisa melahirkan buku semata. Lebih komprehensif. Lebih meluas.

Leli Nur Inda dari Lubuklinggau berkolaborasi menulis bersama Duta Baca Indonesia. Baginya tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Harapannya untuk Duta Baca Indonesia selanjutnya ada agenda literasi ke sekolah-sekolah di pelosok negeri.