Jerinx Jadi Guru Kehidupan Untuk Kita

Jerinx sedang mengajarkan kepada kita bagaimana cara bijaksana bersikap terhadap fenomena yang sedang terjadi. Hanya saja resikonya sangat mahal bagi Jerinx. Sekarang sudah tidak bisa lagi rakyat vs penguasa, tetapi rakyat vs organisasi profesi, rakyat vs ormas, rakyat vs rakyat atau sebaliknya. Kita doakan saja Jerinx sehat di balik jeruji.

Kawan, khutbah kehidupan kali ini, saya ingin berdiskusi soal fenomena Jerinx. Dia sendirian, yang dia lawan adalah hegemoni profesi. Kita harus memakai akal sehat sebelum mengambil tindakan. Harus berpikir logis.

Peristiwa-peristiwa di sekeliling kita adalah tanda-tanda yang diberikan alam kepada kita, agar kita berpikir jernih. COVID-19 sebagai bagian dari konspirasi global sulit dibuktikan. Itu bisa saja seperti delusi.

Di hadapan kita terhidang kematian massal di seluruh dunia, bukan di satu kampung atau provinsi saja. Eropa, Amerika latin, bahkan tetangga saya mati terkena covid-19 dibuktikan dengan 2 diagnosa dari 2 rumah sakit ternama. Itu adalah cara alam mengajari kita untuk bersikap bijaksana.

Mari kita berduka cita untuk para keluarga yang ditinggalkan. Doakan mereka. Support tim paramedis. Saya membayangkan, stok SDM paramedis kita habis. Jika sudah begitu, siapa yang mengurusi para korban?

Mari, kita beri senyum kepada para keluarga yang ditinggal mati orang yang dicintainya. Beri senyum kepada para medis. Jangan beri mereka permusuhan. Jangan beri mereka analisa-analisa yang Anda sendiri tidak bisa membuktikan.

#jumat
#khutbahkehidupan

*) Foto lukisan Edi Bonetski di lokasi pameran “Sebelum Setengah” di Bimasena ArtSpace.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Senyum Seni(man)

Banyak orang menganggap sepele seni. Padahal itu bagian dari kita, keseharian manusia. Seperti halnya sampah, sisi lain dari kita yang buruk. Seni hadir untuk memperhalusnya.

Kadang kita menyepelekan apa yang sudah kita lakukan. Padahal banyak orang yang tersakiti. Kita selalu ingin dihormati, bahkan dalam keadaan tersudut. Apalagi ketika kita sudah membeli semua yang kita butuhkan, termasuk membeli kehadiran manusia. Kita merasa, bahwa semua orang harus menghamba kepada kita.

Jika kita berkubang di dalam seni tetapi kita merasa tidak pernah berhasil memperhalus diri kita sendiri, berarti ada yang salah dengan diri kita. Kualitas karakter kita suah terbentuk sebelum seni hadir di dalam diri kita.

Ingat, seni hadir untuk memperhalus.
Bukan malah menjerumuskan.

*) Foto: Art Street Edi Bonetski di dinding Bimasena ArtSpace, Taktakan Serang.

#Jumat
#khutbahkehidupan

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5