Puisi Gol A Gong Tentang Hakikat Buku

Buku, buku, buku! Dicintai sekaligus dibenci. Ada buku pelajaran yang dibenci, ada buku stensilan yang dirindu. Buku fiksi seperti novel dan puisi juga dibenci dan dirindu. Buku kadang jadi alat pembunuh sekaligus alat pencerahan. Buku ditakuti dicintai. Puisi di bawah ini mencoba mengekspresikannya. Selamat membaca:

BUKU ADALAH KAMU
Puisi Gol A Gong

Bagiku, buku adalah: kamu
Setiap halamannya
menyimpan kenangan
tentang: kamu

Katamu, “Kita eja bersama-sama
bukalah halaman pertama
: bicara lautan ilmu.”

Sekarang, halaman kedua
rindu kita selalu bergelora
Katamu, “Simpan saja rindu,
biarkan abadi di hati.”

Halaman ketiga, tak terasa
kita membacanya hingga pagi
Katamu, “Aku pemimpi!”

Halaman berikutnya, berada di puncak
Katamu, “Kita berdiri di sana.
Tersenyum tentang bintang-bintang,
menikmati kamera dan tepuk tangan.”

Bagiku, buku adalah: kamu
Tak akan pernah selesai aku baca.

*) Serang, 17 Mei 2021

Puisi Gol A Gong: Telunjukmu, Pangeran Diponegoro!

Oleh Gol A Gong

Di alun-alun Kota Magelang
Kulihat wajah pemberani yang sudah lama
kukenal di perpustakaan tersenyum kepadaku
telunjukmu bertanya: ke mana Sultan Banten?

Sore ini ketika senja di balik menara masjid Agung
alun-alun kota Magelang ramai menikmati keberaniannmu
jari telunjukmu itu adalah semangat perlawanan
lantang telunjukmu bersuara: Belanda enyah dari Tegalrejo

Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati
sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati

begitulah aku, tertunduk pada bumi Magelang
Sultan Bantenku pernah ada di perempatan jalan
menunggang kuda dengan gagah berani
menyapa kepadaku setiap lampu menyala merah

Kini Sultan Bantenku tak ada lagi
lenyap ditelan kursi panas politisi
sementara kau, Pangeran Diponegoro
telunjukmu gagah di alun-alun kota

*) Magelang, 14 September 2022

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)