Puisi Gol A Gong
ANTARA TANAH DAN BAPAKKU
Ini cerita tentang tanah nenek moyangku
awalnya kisah makmur di seberang lautan
bawa kabar duka hutan hangus terbakar
kota bersesakkan lumbung manusia kelaparan
Inilah ceritanya:
Bapakku umur sepuluh tahun menepuk dada
nenek moyangnya merajam jagung
dengan takut dan bambu runcing
tak pernah dusta Tuhan
apalagi minta bintang di dada.
Tapi Bapakku minta tanah.
Lalu enampuluh tahun punya anak cucu
tak punya bisnis hilir pun hulu.
Wasiat kakekku pada bapakku:
Kuwariskan tanah, bukan ilmu.
Tanami cerobong. Cemari langitnya.
Tembaki unggasnya. Beraki sungainya.
Kini bapakku sekarat di balik terali
warisannya ketakutan tapi berani bicara
kubacai buku hariannya:
Aku durhakai nenek moyang.
Kutanami tanah dengan wangi padi.
Kutebar gelepar ikan.
Kulukisi langit dengan pelangi.
Kusumpahi kolusi.
Lima belas tahun ganjaranku.
Bapakku bikin aku melarat
kukubur di tanahnya nisan cendana dan kamboja
maka ketika gurita menggaruki tanah warisan
aku menyusul Bapak ke balik terali
Kini di pusaranya bernisan tiang merkuri
*) Serang Januari 1996

Puisi ini menyoroti pentingnya tanah sebagai warisan nenek moyang. Tanah bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol identitas dan sejarah keluarga. Wasiat kakek yang diwariskan kepada bapak menunjukkan nilai yang dijunjung tinggi dalam budaya agraris.
Ada nuansa ketidakadilan yang muncul dari kondisi tanah yang terbakar dan kota yang dipenuhi kelaparan. Ini mencerminkan realitas sosial yang dihadapi oleh masyarakat, di mana kemakmuran sering kali terganggu oleh bencana dan keserakahan.
Puisi ini mengajak kita untuk merenungkan hubungan kita dengan tanah dan warisan yang kita terima. Dalam konteks modern, di mana banyak orang terputus dari akar budaya dan tanah mereka, puisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan sejarah dan lingkungan kita.


