Bagiku kopi dan teh memiliki cita rasa dan sensasi yang berbeda-beda. Sensasi kopi, tentu ketika aku menemukan suasana puitik di saat traveling. Momen itu tidak pernah aku lepaskan. Aku minum kopi bukan jadi kebiasaan seperti makan-minum atau gaya hidup. Bukan.

Biasanya saat traveling, aku menemuka sebuah tempat untuk merenungkan ide-ide segar sebuah cerita novel atau puisi. Segelas kopi panas biasanya membantu memberikan jalan terang menemukan kata per kata hingga kalimat dan paragraf. Begitulah fungsi kopi buatku.

Bagiku kopi juga pintu masuk bagi sebuah ide besar. Gagasan baru. Ketika aku menemukan kontradiksi antara kopi pabrik, kopi yang bertebaran di kebun kopi, para petani kopi, kemiskinan yang menggurita di Indonesia, ekonomi liberal, ekonomi kerakyatan, maka kopi adalah sebuah simbol. Aku menulis puisi tentang itu. Jadilah buku puisi Air Mata Kopi (Gramedia 2014) dan masuk 10 nominasi buku puisi terbaik di Hari Puisi Indonesia 2014.


