Lalu saya harus menyetor 4 fiksi mini. Kurang 1 lagi. Ide macet. Saya harus berburu ide. Ke mana? Saya putuskan ke Pasar Lama, Kota Serang. Saya menyusuri pasar loak. Saya maksimalkan panca indra. Saya amati semua yang terlihat. Saya kaget.

Itu kipas angin saya – merek Sanyo. Sudah pasti. Kipas itu sudah menemani saya sejak nge-kos di Jakarta dan Bandung. Saya beli tahun 1990-an. ekarang ngejogrog di sebuah lapak elektronik. Dulu hilang, ada yang mencuri. Kata si Mas Lapak, “Sudah 4 tahun ngendon di sini.”
Si Mas Lapak agak tertutup dan menjaga jarak, karena kuatir dikasuskan. Saya bilang, “Saya mau beli kipasnya.” Saya tawar dari Rp. 80 ribu ke Rp. 70 ribu. Masih menyala.

Saya gembira menemukan kembali kipas ini. Tentu ini bukan kebetulan. Di rumah, saya cuci. Tias dan Natasha membantu. Ya, Allah. Debunya sudah jadi tanah.
Kemudian saya olah peristiwa ini jadi fiksi mini. Saya jadi tokoh “aku” yang menemukan kipas angin mantan pacarnya. Kata Tias Tatanka, “Di kipas angin itu ada nomor kontak mantan pacarnya, yang memang sengaja ditulis di situ.”

Nah, menemukan kipas angin, berarti tokoh “aku’ terhubung ke masa lalu. Fiksi mini itu 1 lokasi. Maka cerita saya awali dengan tokoh “aku” yang sudah tiba di ruang tamu rumah mantan pacarnya. Tentu dia membawa kipas angin keramat itu.
Twist endingnya? Beli saja buku antologi fiksi mininya ke Indra Defandra , CEO Satria Indra Prasta – SIP Publishing atau WA 0895 0894 3674 dengan Risma.
Gol A Gong


