Malamnya aku bisik-bisik di sajadah, padahal sedang libur salat. Kubilang, ya Allah, tolong sembuhkan sakitku, aku nanti harus banyak jalan, memanggul ransel. Aku nggak mau merepotkan hubby. Niatku ikut juga karena ingin meringankan pekerjaan beliau.

Alhamdulillah paginya kondisiku membaik. Aku bisik-bisik lagi, makasih Allah, tolong makin baikkan kondisiku. Seperti ngelunjak, ya. Tapi aku perlu sekali pertolongan-Nya. Sudah tidak bisa mundur lagi perjalanan ini.

Di perjalanan melintasi negara lain, ada hal yang sedikit membuatku trauma, terutama di perbatasan Malaysia. Tahun 2012 aku pernah dipanggil masuk ruang custom. Dibiarin aja di dalam, bersama beberapa orang. Disuruh duduk, sementara petugas memeriksa paspor dan KTP. Aku duduk tenang, sesekali menjawab pertanyaan keperluan di Singapura dan Malaysia.

Setengah jam kemudian aku dibolehkan keluar ruangan. Hubby menemuiku dengan senang luar biasa. Wajahnya lepas dari cemas begitu melihatku. Apakah aku takut? Ya, sedikit takut, tentu.

Perasaan takut itu hadir lagi ketika kami masuk imigrasi di perbatasan Singapura – Malaysia. Tapi aku berusaha tenang saat bus antar kota antar negara berhenti di lobby pemeriksaan.
Alhamdulillah pemeriksaan lancar dan singkat. Masya Allah, plong rasanya. Aku bisik-bisik lagi sama Allah, makasih ya Allah. Tolong jagain, jangan pernah lagi ada kejadian masuk custom. 🙏

Aku percaya kesulitan datang untuk dipelajari dan jadi pengingat langkah. Cuma kadang eh, sering juga, aku melupakan pelajaran-pelajaran itu. Astaghfirullah. Setelah ingat lagi ya, cuma bisa istighfar dan mohon perlindungan.
(*) Serang, 26 Maret 2024


