Tujuh Literasi Pemberdayaan Masyarakat #2: Literasi Keuangan, Apakah Gerangan Itu?

Tujuh Literasi Dasar Pemberdayaan Masyarakat 2: Literasi Keuangan, Apa Itu? Judul inilah yang saya angkat. Ini adalah topik kelanjutan dari yang pertama, yaitu literasi baca. Ingat, saya mengadopsi “6 Literasi Dasar Anak Usia Dini” versi Kemdikbudristek RI. Konsep itu bagus. Saya modifikasi jadi tujuh dan ditujukan untuk usia produktif. Ini bisa kita gunakan untuk persiapan menuju bonus demografi (2030) dan Indonesia Emas (2045).

Kita kembali ke cerita tentang seorang pelajar SMA (pemustaka) yang berada dalam situasi ekonomi yang sulit. Dia ingin meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Tapi, dari mana biayanya? Ayah-ibunya hanya buruh kasar. Kemudian dia bertemu dengan pustakawan yang menyodorkan buku “Bagaimana Caranya Membuat Kue Brownies” di perpustakaan kotanya. Dalam “Tujuh Literasi Dasar Pemberdayaan Masyarakat” itu adalah tahap pertama: literasi baca.

“Seminggu lagi kamu datang ke sini. Kita bicarakan isi bukunya,” kata si Pustakawan yang progresif dan inovatif. Setelah seminggu, dia mengembalikan buku itu kepada pustakawan. Terjadilah dialog yang produktif antara pustakawan dan pemustaka.

Setelah seminggu, dia mengembalikan buku itu kepada pustakawan di perpustakaan kotanya. Terjadilah dialog yang produktif antara pustakawan dan pemustaka.

“Setelah membaca buku cara membuat brownies ini, apa yang kamu rasakan?” Pustakawan penasaran.

“Saya gelisah. Ini ibarat punduk merindukan bulan.” Pemustaka bersedih. Dia menunduk.

“Kenapa? Ceritakan apa yang kamu rasakan. Siapa tahu saya bisa membantu.”

“Setelah membacanya, buku tentang membuat brownies itu sangat menantang. Saya merasa sedang membuat browniesnya. Saya ingin sekali membuatnya. Siapa tahu saya bisa mendapatkan keuntungan dan itu bisa membiayai kualiah saya.”

Saat itu Kepala Dinas Perpustakaan Kota melintas di depan mereka. Si Pustakawan menceritakan peristiwa dengan pemustaka tadi.

Kadis sangat tertarik. “Bisakah kamu membuat perencanaan bisnisnya? Kira-kira 1 brownies itu membutuhkan biaya berapa?” Kadis menantangnya.

Tanpa diduga si pemustaka mengeluarkan buku kecil dari tas punggungnya. “Sudah saya hitung, Bu. Biaya produksi 1 brownies Rp 20 ribu. Saya akan menjualnya Rp 30 ribu,” si pemustaka dengan gamblang menjelaskan.

Bu Kadis tersenyum lebar. “Baiklah. Saya memesan 100 brownies. Kebetulan di rumah ada perayaan ulang tahun cucu saya. Rencananya saya mau merayakannya di panti asuhan.” Bu Kadis mengangguk-angguk.

Si Pemustaka dan Pustakawan saling pandang. Mereka tersenyum bahagia. Apalagi ketika Bu Kadis melunasinya langsung. Terbayang keuntungan Rp. 500 ribu ditangan dari 50 brownies yang akan dibuat.

“Tapi, saya ingin browniesnya tidak memakai pengawet. Warnanya juga jangan dari pewarna. Saya ingin yang organik.”

Si pemustaka megniyakan. Di dalam pikirannya sudah terbayang pohon-pohon atau buah-buahan yang bisa dijadikan bahan pewarna. Inilah yang disebut “Literasi Dasar Pemberdayaan Masyarakat 3: Literasi Sains”.

Bersambung ke “Tujuh Literasi Pemberdayaan Masyarakat #3: Literasi Sains, Apalagi Ini?

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==