Malam itu beruntungnya, saya tak buru-buru. Alih-alih menegaskan dan mengeraskan suara supaya dapat respon dari si penjual, sebaliknya saya senang dan tertarik melihat buah-buahan yang sedang disortir. Saya, yang awalnya hanya berdiri di mulut kios tempat mereka menaruh buah-buahan, akhirnya masuk dan menyaksikan aktivitas mereka.

“Pak, buah semangkanya bagus dan gede-gede banget dari mana ini?” tanpa basa basi pertanyaanku dijawab lelaki bertopi hitam yang sedang berdiri memerhatikan buah yang sedang diangkut.

“Dari Lampung.”
“Kalau buah mangga ini dari mana, Pak?”
“Madura.”
“Kalau melon dari mana, Pak?”
“Dari Jawa,” katanya. Tetap tak mau basa basi, apalagi menyunggingkan senyum.

Terakhir, saya bertanya lagi ke bapak bertopi hitam itu. “Pak, dari banyaknya buah-buahan yang ada di sini (Pasar Rau – Red) kira-kira ada nggak Pak buah yang asli dari Banten?”
“Ada, buah kebohongan!” katanya dengan nada ketus.
“Maksudnya, Pak?” saya memburu jawaban yang dilontarkan.
“Orang Banten mah doyan bohong alias tukang ngetuk!”
Mendengar perkataan itu, saya sebagai orang yang lahir dan besar di Banten, sikap apakah yang pantas saya ambil? Tertawa, atau sebaliknya sedih? Akhirnya, saya memilih tertawa sajalah.

“Pak, saya mau beli melon.”
“Di sini mah nggak jual bijian, kalau mau beli bijian mah sebelah sana, Kang.” Waduh salah tempat ternyata, pantas aja tadi tidak direspon.

Pelan-pelan saya berjalan meninggalkan lelaki bertopi hitam dan berpakaian kaos oblong yang sedang berdiri dengan mata terus memerhatikan gerak-gerik teman-temannya yang sibuk bekerja. Sambil berjalan, kata-kata lelaki tadi masih cukup terngiang di telinga dan pikiran saya.

Tak lama dari peristiwa itu, saya bertamu ke rumah seorang perempuan berdarah Padang. Tanpa disangka-sangka, ibu dari perempuan itu ngomong jika cari suami jangan orang Banten. Orang Banten pemalas. Mendengar omongan itu, hati saya langsung tertampar.

Ada rasa tidak terima atas justifikasi yang menganggap seluruhnya orang Banten pemalas. Tapi, karena kata-kata itu dilontarkan orang tua, saya hanya bisa merenungkan sambil terus bertanya dalam diri saya apakah benar orang Banten itu pemalas? Ternyata ketika saya memvalidasi ke beberapa teman, sebutan orang Banten tidak hanya pemalas, lebih dari itu orang Banten tukang kawin juga.

Waduh, alih-alih saya mendapatkan pembelaan atas tuduhan yang kurang mendasar itu, eh malah teman saya menambahkan. “Jika datang ke daerah lain, pasti label tukang kawin melekat ke orang Banten.”
“Dari mana?”
“Dari Banten.”
“Oh, daerah yang tukang kawin itu, ya!”
Hal itu yang pernah saya alami ketika datang ke Lampung, kata teman saya sambil tertawa.
“Selain tukang kawin, orang Banten di luar terkenal juga pemimpinya yang korup.”
Waduh, makin banyak aja nih. *
*) Abdul Salam HS, tukang kopi di Rendez-vous. Asli dari Waringinkurung.

