Kami mengajak anak muda Banten menuju dunia menulis sebagai profesi. Atau ada juga yang memaknainya sebagai keterampilan khusus. Jadi kalau bertemu dengan wartawan dan pernah belajar di Rumah Dunia, pasti mereka bukan sekadar warawan biasa yang menulis berita, tapi juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Beberapa ada juga yang mampu menulis novel dan film.
Kali ini akan saya tampilkan 5 puisi karya Ardian Je. Sehari-hari dia mengajar. Inilah yang saya sebut sebagai keterampilan khusus. Ardian Je dikategorikan bukan sekadar pendidik biasa tapi juga mampu menulis esai, cerpen, puisi, dan sebentar lagi menuls novel. Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal dan nasional.
Mari kita nikmati lima puisinya:
Ardian Je
Badut Politik
Aku badut. Badut politik. Seperti badut sirkus,
aku suka menghibur para penonton, rakyat jelata
yang kubeli dengan seliter beras saat pilkada.
Mereka datang kepadaku untuk mendapat hiburan
dan pertunjukan kebohongan.
Aku badut. Badut politik. Layaknya badut sirkus,
aku pintar bermain sulap, dan suap.
Aku bisa menyulap tumpukan kertas
menjadi bunga mawar yang indah.
Dan kuberikan kepada kalian, wahai rakyatku,
beserta duri tajam di tangkainya.
Aku badut. Badut politik. Mirip badut sirkus,
aku selalu memakai topeng dan berpura-pura.
Aku tertawa. Ya, tertawa.
Menertawakan kedangkalan akal budi kalian.
Aku badut. Badut politik. Bagai badut sirkus,
aku tak hanya bisa bergoyang,
tetapi juga bermain senjata tajam.
Jika lampu tiba-tiba padam di tengah pertunjukan,
awas, aku bisa menusukmu tanpa ketahuan!
2019

Ardian Je
Mataair
Dari pusar bumi
mataair
mengucurkan
cintamu
ke urat-urat hutan
ke liang-liang lautan
ke pori-pori hatiku yang
kerontang.
2018

Ardian Je
Mataapi
Menyulut lilin, mataapi adalah kata-kata
yang mengalahkan kegelapan dalam goa hatiku.
Rasa benci adalah dinding-dindingnya, mengurungku
selama berabad-abad. Dengan darah dari ujung jari
kutuliskan kesedihan di sana, dalam sajak-sajak
penuh airmata.
2018

Ardian Je
Matagunting
Kau dan aku adalah selembar kertas.
Meski matagunting memotong kita
menjadi dua atau sejuta
kita tetaplah kertas.
2018

Ardian Je
Matahati
Matahati mampu melihat
apa yang tak bisa dilihat
mata biasa.
Tapi, kasih, entah mengapa
matahatiku tetap tak mampu melihat parasmu.
Meski sudah kita daki seribu bukit ciuman
dalam selimut kabut.
Lalu aku bentangkan sajadah rindu
di sepanjang jalan kota, di jalan setapak
hutan-hutan, hingga ke tebing-tebing
paling cadas. Berharap kau melihatnya
dan duduk bersila. Tapi itu semua sia-sia
bagai abu digilas musim yang ganas.
Dengan airmata dan doa, dengan zikir-zikir purba,
kudirikan jembatan yang menggandengkan pulau-pulau
agar tak ada lagi alasan bagi kau untuk tak bisa kutemui.
Tapi yang kulakukan hanyalah menanam benih di perut api.
Matahatiku tak mampu melihatmu.
Agar mampu melihat parasmu
kemudian bercinta sepanjang waktu
haruskah aku menjemput maut dulu?
13 Agustus 2018
Ardian Je menulis puisi, cerpen dan esai. Ia bergiat di Rumah Dunia; pendiri Rumah Baca Bojonegara dan pendidik di SMP Unggulan Uswatun Hasanah Cilegon. Bukunya bertajuk Bojonegara (kumpulan puisi, 2017) dan Lelaki Tua yang Menyapu sambil Menangis (kumpulan cerpen, 2019).




Makasih golagongkreatif.com telah memuat puisi-puisiku. Semoga bermanfaat.
Sukses selalu Mr. Je & semakin banyak karya tulisan nya.
Mantap👍
Puisinya bagus dan semoga siswa yang ikut ekstrakurikuler menulis bisa menciptakan suatu karya.