Oleh: Zaeni Boli
Malam menjelang tidur, saya mencoba membangun komunikasi dengan Meta AI agar bisa berkolaborasi dalam membuat cerita anak. Namun, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Meta AI memiliki keterbatasan—salah satunya yang membuat saya tidak sabar adalah ketidakkonsistenannya dalam menggambar.
Dari sini, saya semakin belajar bahwa manusia sejati masih lebih unggul daripada kecerdasan buatan. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk terus mengembangkan kemampuannya agar tidak lekas percaya pada apa yang dikatakan AI atau kecerdasan buatan.




Entah bagaimana kecerdasan buatan mengolah data, tetapi banyak ditemukan informasi dari AI yang ternyata tidak cukup valid sebagai sumber informasi. Tanpa verifikasi lebih mendalam, kita hanya akan terjebak dalam pengetahuan yang keliru.
Akhirnya, saya menyerah pada halaman ketujuh dari cerita anak yang saya buat malam ini bersama Meta AI. Namun, apa pun itu, saya tetap berterima kasih atas bantuannya.




Kecerdasan buatan bisa menjadi senjata, dan untuk menggunakannya dibutuhkan keahlian khusus. Salah satunya adalah kemampuan dasar literasi yang harus diperkuat. Sejatinya, manusia masa kini mampu berkolaborasi dengan kecerdasan buatan, dengan catatan telah menguasai dasar-dasar literasi, seperti menulis dan membaca dengan baik.
Selamat mencoba berkreasi bersama kecerdasan buatan!



