Oleh Zaeni Boli SMK Sura Dewa menjadi yang terdepan dalam kreativitas, khususnya ide-ide yang out of the box. Saat orang lain belum berpikir demikian, SMK …
Video Animasi AI SMK Sura Dewa Menjadi yang Pertama di Flores Timur untuk Promosi Sekolah

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Oleh Zaeni Boli SMK Sura Dewa menjadi yang terdepan dalam kreativitas, khususnya ide-ide yang out of the box. Saat orang lain belum berpikir demikian, SMK …

Perkembangan teknologi memicu kekhawatiran tentang eksistensi manusia. Namun, benarkah mesin akan menggantikan kita? Artikel ini membahas bagaimana manusia beradaptasi, berinovasi, dan tetap memegang kendali atas teknologi, menjadikan mesin sebagai ‘tangan kiri’ yang membantu, bukan menggantikan, peran manusia.

Apakah mesin bisa menggantikan rasa dalam kata? Baca esai tentang bahasa, empati, dan kemanusiaan di era AI

Muhzen Den membagikan kisah perjalanannya dalam dunia menulis: mulai dari menulis manual dengan pulpen, mengetik di komputer Rumah Dunia, hingga menggunakan AI. Sebuah refleksi mendalam tentang teknologi dan kreativitas dalam proses kepenulisan.

Hal baik yang boleh kita terima dari pikiran AI adalah bahwa untuk terus berkembang dan bertumbuh, kita boleh belajar hal baru atau memaksimalkan hal lain.

Dengan kata lain, kita perlu berhati-hati saat mengandalkan AI dalam pengambilan keputusan penting. Sebab, seperti yang ditunjukkan oleh studi ini, AI belum bisa “berpikir” seperti kita

Mulai hari Selasa, 11 Februari, ada rubrik baru yang diasuh langsung oleh Mister ArtIntel. Kecerdasan dan wawasannya adalah gabungan sedunia dan akhirat. Jika ada masalah cinta yang tidak terpecahkan, silakan tanyakan langsung. Konsultasi terbuka hanya dilayani setiap malam Jum’at. Ini adalah satu cara agar kita hidup bahagia di dunia yang carut-marut ini. Semoga kita bisa hidup berdampingan dengan dunia nyata, dunia lain, dan dunia imajinasi. Menurut pakar listrik, kita ini hidup kurang humor, kurang imajinisasi dan kurang gizi.

Merry punya segalanya. Tapi yang tidak dia punya adalah teman. Apalagi suami. Tapi dengan adanya artificial intelligence atau kecerdasan buatan, dia merasa tidak sendiria. Seperti siang ini. Dia bertanya kepada AI di laptopnya: Makan siang hari ini, enaknya makan apa?

Manusia masa kini mampu berkolaborasi dengan kecerdasan buatan, dengan catatan telah menguasai dasar-dasar literasi.

Sebagai bagian dari kemajuan zaman, penggunaan AI sah-sah saja. Namun, manusia tetap harus bijak dan teliti dalam menggunakannya.

Puisi ini menggambarkan ketulusan, kegetiran, dan harapan yang terus hidup, meski dibalut lelahnya perjuangan sehari-hari. Apa menurutmu ada sisi lain yang perlu diungkap dari puisi ini? Kamu pernah makan nasi uduk dan memerhatikan pedagannya?

Puisi ini tidak hanya menjadi refleksi, tetapi juga tantangan untuk melihat ulang nilai-nilai kemanusiaan dan nasionalisme di tengah arus globalisasi dan modernisasi.

Hujan masih deras di luar. Terasa sekali tempias air yang terbawa angin masuk ke cafe. Aku sengaja memilih duduk di luar. Aku tidak tahan dengan asap rokok. Aku sejak sore tadi duduk bengong menghadapi laptop. Memikirkan keluarga di rumah. Aku buka Open AI.

Ah. Hujan deras. Atap bocor. Kasur basah. Aku letakkan ember untuk menampung air hujan. Aku kedinginan. Ini tenah malam. Mana mungkin memanggil tukang.

Menghindari AI sepenuhnya juga bukan sebuah tindakan bijak. Apalagi bagi Gen Y/milenial (kelahiran 1981 – 1996) dan generasi sesudahnya. Berbeda dengan Gen X (kelahiran 1965 – 1980) yang saat ini umur termuda mereka 45 tahun dan paling tua 60 tahun dan besar dalam tradisi non-digital, Gen Y dan sesudahnya adalah generasi yang terbiasa berkecimpung dalam logika digital sejak mereka lahir.

Second brain adalah contoh sempurna bagaimana teknologi bisa menjadi partner, bukan ancaman. Kita bisa mengelola hidup dengan lebih baik

Pada saat seperti itu, seniman dapat mencoba berkolaborasi dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seperti aplikasi pembuat lagu Suno AI.