Dari roda hingga kecerdasan buatan, apakah mesin mengancam eksistensi kita? Pernahkah pembaca memperhatikan bahwa mesin dari zaman ke zaman selalu mendampingi manusia? Pada zaman dahulu, mesin sangat erat kaitannya dengan besi dan alat berat yang dapat bergerak secara otomatis. Meskipun definisi mesin pada dasarnya adalah alat yang digunakan untuk mengubah gaya yang satu menjadi gaya yang lain.
Zaman sekarang, mesin tidak terbatas pada besi. Bahkan perangkat lunak berisi angka dan huruf dapat dikatakan mesin. Kemunculan mesin mempermudah kehidupan manusia. Akan tetapi, dengan adanya mesin, banyak manusia yang khawatir akan eksistensi manusia itu sendiri.

Tujuan dari terciptanya mesin sendiri sudah terlihat secara nyata, bahwa mesin memang membantu tugas dalam kehidupan manusia. Kita pasti sering melihat sepeda motor, televisi, telepon pintar (smartphone), dan bahkan pengolah teks otomatis. Itu semua merupakan alat-alat yang menggunakan mesin. Alat-alat tersebut merupakan alat yang muncul karena perkembangan teknologi.
Apakah dengan adanya televisi (TV), para penulis berita di koran menjadi kehilangan pekerjaan mereka? Apakah kreativitas seorang penulis dapat dikalahkan dengan kecerdasan buatan yang menghasilkan tulisan dalam hitungan detik?
Ketergantungan Manusia pada Mesin

Perkembangan teknologi telah membawa manusia pada zaman di mana manusia sangat bergantung pada mesin. Menurut survei yang dilakukan Ofcom pada bulan Oktober 2024 hingga Maret 2025, warga Britania Raya menggunakan ponsel pintar (smartphone) selama 8 jam 41 menit. Itu lebih dari sepertiga hari.
Ketergantungan ini muncul sebagai salah satu dampak adanya perkembangan teknologi. Zaman dahulu, setelah ditemukannya telepon, manusia dapat bertukar informasi dengan cepat. Setelah ditemukan telepon genggam, manusia dapat bertukar informasi lebih cepat lagi. Hanya dengan duduk tanpa antre, informasi akan terkirim dalam hitungan detik.
Hal ini tentu akan mendorong manusia di berbagai sektor, seperti sektor informasi. Telepon genggam saja sudah benar-benar membawa perubahan besar pada kehidupan manusia. Apalagi jika kita berbicara ponsel pintar yang fungsinya lebih banyak daripada telepon genggam.
Kekhawatiran dan Adaptasi Manusia
Tidak dapat dimungkiri, perkembangan teknologi selain memberi kemudahan juga memberi kekhawatiran kepada manusia. Seperti yang penulis singgung di awal, manusia selalu menanyakan dampak dari perkembangan teknologi. Smartphone dengan media sosial misalnya, dapat mengirim pesan teks ke siapa saja yang dikehendaki. Hal ini membuat seseorang khawatir dikirimi pesan penipuan.
Manusia pun mulai merespons dengan membuat aturan-aturan untuk mengawasi penggunaan media sosial. Di Indonesia misalnya, ada UU ITE yang mengatur penggunaan media sosial.
Mesin yang tercipta tidak bisa berfungsi dengan sendirinya. Ada manusia yang mengoperasikan mesin tersebut agar sesuai kehendak manusia itu sendiri. Pengetahuan dan kebijaksanaan manusia dalam memanfaatkan mesin sangat dibutuhkan dari zaman ketika mesin pertama kali ditemukan sampai saat mesin sudah sangat berkembang seperti sekarang.
Kebijaksanaan manusia dalam menggunakan teknologi juga menjadi landasan agar teknologi tidak disalahgunakan dan menyalahi norma yang ada. Manusia pun membuat aturan penggunaan teknologi sebagai bukti bahwa manusia harus selalu siap menghadapi kemajuan zaman.
Kreativitas dan Pekerjaan Baru
Manusia terbukti responsif, adaptif, dan kreatif dalam menghadapi perkembangan teknologi. Seperti contoh, dengan adanya motor yang memiliki kemampuan melaju kencang dan dapat membahayakan manusia. Manusia berusaha mengatur bagaimana teknologi tersebut tetap dalam kendali dengan mengatur batas kecepatan dan standar keamanan.
Manusia juga dapat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Penulis berita koran yang semula hanya dapat menyebarkan informasi lewat kertas koran, beralih menjadi penulis skrip berita yang akan ditampilkan di TV. Selain dapat menggantikan profesi lama, perkembangan teknologi juga menciptakan pekerjaan baru berupa pembaca berita di TV.
Perubahan pekerjaan ini tidak hanya bersifat fungsional, namun juga kultural. Jika kita melihat delman, tentu kita akan berpikir bahwa delman sudah tidak diperlukan lagi karena sudah tergantikan dengan mobil. Namun, dengan kreativitas manusia, delman dijadikan salah satu fasilitas wisata di tempat wisata. Delman menawarkan pengalaman yang mungkin tidak dapat dirasakan manusia setiap harinya. Kesadaran akan adaptasi dengan perkembangan teknologi merupakan nilai utama.
Menurut The World Economic Forum, pada tahun 2025 ada 85 juta pekerjaan hilang karena otomatisasi. Namun, secara berkala akan muncul 97 juta pekerjaan baru setelahnya.

Peran AI dan Manusia sebagai Kendali
Teknologi yang baru-baru ini sempat menggemparkan dunia, yaitu Artificial Intelligence (AI) yang lebih maju, dapat menanggapi keinginan manusia. Seperti menuliskan karya tulis bahkan menggambar objek sesuai perintah. Bahkan dengan kemajuan seperti itu, AI masih membutuhkan kreativitas manusia untuk menjalankan fungsinya.
Hanya dalam hitungan bulan, muncul pekerjaan baru sebagai prompter yang bekerja untuk menjalankan AI sesuai keinginan pengguna. Bahkan sekarang juga sudah muncul peraturan-peraturan yang mengatur tentang penggunaan AI untuk menjaga etika terhadap penggunaan AI. Pada bagian ini, pemerintah atau pembuat kebijakan harus mengambil tugas dalam pembuatan aturan penggunaan teknologi. Contoh aturan yang sudah dibuat mengenai penggunaan AI adalah US AI Action Plan yang baru diterbitkan pada tahun 2025.
Pada dasarnya, kemampuan manusia itu sendirilah yang menciptakan mesin dengan berbagai perkembangannya. Maka, sudah tidak mengherankan jika manusia juga yang akan membatasi agar teknologi tetap pada kendali. Dari hal ini dapat disimpulkan, mesin-mesin yang berevolusi tidak lebih dari alat bantu manusia saja.
Tanpa manusia, mesin-mesin tersebut tidak tercipta bahkan tidak beroperasi. Mesin ingin digunakan untuk kebaikan maupun keburukan tergantung pada manusia itu sendiri. Manusia tetap membutuhkan pengetahuan bahkan kebijaksanaan mereka sebagai ‘tangan kanan’ manusia itu sendiri. Mesin-mesin sebagai pendukung lebih seperti ‘tangan kiri’ manusia.
Tentang Penulis:

Faezal Muhamad Nur lahir di Ponorogo, 30 Juni 2003. Memulai menulis di tahun 2021. Berawal dari ketertarikan menulis syair dan puisi. Sekarang berlanjut mengeksplorasi berbagai macam jenis tulisan. Ini ia lakukan sembari melanjutkan pendidikan di IAIN Ponorogo dengan program studi Manajemen Zakat dan Wakaf.



