Apa yang saya pikirkan sebagai suami dan ayah di hari terakhir puasa ramadan 2025? Anak pertama Nabila yang bekerja di perusahaan China dan si bungsu Natasha yang kuliah di UPI Bandung sudah di rumah – mereka membantu ibunya menyiapkan kue lebaran. Putra ketiga Jordy sedang dalam perjalanan Yogya – Merak – diperkirakan sampai rumah Minggu 30 Maret. Sedangkan putra kedua Gabriel tidak pulang – dia bersama istrinya di Abu Dhabi.
Saya lelaki berusia 62 tahun, menghadapi lebaran dan anak-anak sudah dewasa. Tidak ada lagi belanja baju baru ke pasar atau mal. Semua berjalan seperti libur kuliah saja. Sangat berbeda ketika mereka masih kecil 20 tahun lalu, misalnya, saat mereka masih anak-anak. Ritual membangun sahur, bernuru takjil, berbuka puasa, menyalakan kembang api, membungkus kado untuk para keponakan, dan beli baju lebaran.

Saya jadi ingan lebaran 1976. Umur saya 13 tahun, di kelas 1 SMP di kota Serang. Bapak dan Emak membelikan kami baju lebaran. Seingat saya, celana dan bajunya menjahit. Lihat foto di atas. Dari kiri Teh Dian dengan celana korduray, saya, Gosal, dan si kembar Evi dan Iva dengan kaos bertuliskan 76. Saat itu kami tinggal di Komplek Guru, Jl. Yusuf Martadilaga, Kota Serang – persis di belakang SMPN 2 Kota Serang.
Gol A Gong



