“Aisyah, Ayyash! Ayo makan!” seru Bunda dari dapur “Iya, Bun!” jawab kami secara bersamaan. Hmmmm…. Kira-kira Bunda masak apa ya untuk makan siang? Karena biasanya sih lauk yang Bunda masak, enak-enak dan mampu mengalahkan makanan yang dijual di rumah makan, intinya enak. Dan sesampainya di ruang makan, kami terkejut.
“Ini dia! Menu spesial kita hari ini, TERI KACANG BALADO DENGAN SAYUR KOL
REBUS!” ucap Bunda sambil menyajikan kacang tanah yang di goreng bersama teri, diberi cabe
dan sayurnya semangkuk kol rebus. Kami tidak peduli soal kol rebus tapi yang membuatku
menjadi tidak selera makan adalah kacang tanahnya.
“Yahhhh, kok, lauknya teri kacang balado sih, Bun?” tanyaku
“Iya, kenapa teri kacang balado, Bun?” Ayyash menimpali
“Ehh, jangan mengeluh dulu, belum coba masa udah ngeluh aja?” tanya Ayah yang
muncul entah dari mana.

“Ayah kok bisa tiba-tiba muncul sih?” tanya Ayyash
“Hehe, kan, dimana ada makanan, di situ ada Ayah.” Jawab Ayah sambil tersenyum
“Sudah, sudah ayo cepat ambil nasi!” Perintah Bunda. Setelah itu kami pun makan.
Karena kami masih merasa aneh, jadi kami ragu-ragu untuk mengambil kacang
“Kamu duluan saja makannya Ayyash.” Aku menawarkannya untuk makan terlebih
dahulu
“Kakak saja. kan, kakak harus mengalah kepada adiknya.” Dia membujukku, baiklah
daripada aku mendapatkan ceramah dari Bunda, kemudian aku mengambil sedikit dan mencampurnya dengan nasi ketika kacang dan teri balado itu masuk ke mulutku, aku terkejut, aku pikir rasanya pahit, ternyata enak.
“Bunda, rasanya enak sekali! Boleh tambah lagi kacangnya?” aku memohon
“Boleh, Ayyash, kamu juga ambilah.” Ucap Bunda
“Emmm…. Gak usah deh Bunda, soalnya Ayyash gak terlalu suka teri kacang.”
Jawabnya, jadi, dia hanya makan nasi dengan sayur kol rebus, walaupun aku merasa waktu
makan menjadi sedikit tidak enak karena hanya Ayyash yang tidak ingin makan teri kacang.
Tibalah waktu makan malam, makan malam adalah waktu yang paling aku sukai karena
aku bisa makan sepuasnya, kami makan malam dengan lauk yang sama yaitu teri kacang balado,
kata Ayah agar Ayyash tertarik untuk makan kacang saat makan malam, Ayyash memasang
wajah cemberut, sama seperti makan siang tadi, kami membuuknya agar dia mau makan teri
kacang kacang balado ini.
“Ayo dong Ayyash, coba makan satu suap saja.” bujuk Ayah
“Aku gak mau Ayah.” Jawab Ayyash, begitu juga ketika Bunda yang membujuknya.
karena mungkin sulit bagi seseorang untuk mencoba hal baru, bagaimana ini? aku ada ide
“Ayyash, coba tutup kedua matamu dan buka mulutmu lebar, selebar mungkin.” Bujukku
sambil memasukkan sesendok teri kacang balado kedalam mulutnya, kemudian matanya
berbinar.

“Hmm… enak sekali ini apa, Kak?” tanyanya dengan mata yang masih berbinar
“Yang kakak masukkan barusan adalah teri kacang balado yang kamu bilang tidak enak
itu.” Ujar Bunda sambil tersenyum
“Bagaimana? Enak tidak?” tanya Ayah
“Iya, apa boleh kalau Ayyash tambah lagi? Pleaseee.” Ia memohon dengan gaya yang
lucu.
“Boleh, ambil saja.”
“Kalau kakak gak di tawarin nih, Bun?” tanyaku.
“Tentu saja! ayo makan dengan lahap, ya.” Ujar Bunda. Setelah kami semua selesai
makan, Bunda manjelaskan bahwa kacang memiliki banyak khasiat.
“Kacang tanah itu memiliki banyaak kandungan gizinya lho, ada protein, ada serat, dan
lemak, kacang juga mengandung karbohidrat yang membuatmu menjadi lebih bertenaga.”
“Ternyata, dengan memakan kacang, selain enak dan lezat juga mendapatkan banyak
manfaat, ya.” Gumam Ayyash sambil mengunyah kacang.
Kampar, 19 September 2025


TENTANG PENULIS: Tengku Aisyah Fachriah lahir di Pekanbaru, 11 April 2013.
Saat ini Aisyah merupakan siswa kelas 7 SMP
Muhammadiyah Bangkinang. Cita-citanya adalah menjadi
dokter anak. Aisyah sangat senang membaca dan juga
menceritakan kembali isi sebuah bacaan. Aisyah beberapa kali
mengikuti program menulis dan mendongeng, dan telah ikut
menerbitkan beberapa karyanya dalam buku antologi. Cerita pendek pertamanya berjudul
Adzkia Ramadhan Berkah Ramadhan Smile dimuat dalam antologi Cerita Islami (2022).
Cerita pendek keduanya yang berjudul Hiking Pertamaku di SD Muhammadiyah 019
Bangkinang dimuat dalam antologi Asyiknya Bertualang (2023). Buku ketiga dan keempat
merupakan buku solonya, sebuah cerita bergambar berjudul Keseruan ke Perpustakaan
Daerah Kampar (2024), Sebuah buku solo Antologi cerita anak yang berjudul My First
(2024), Fiksi Mini bersama Gol A Gong dalam Buku Cincin yang baru saja Launching (2025)

CERPEN ANAK: Mulai Juni 2025 ada kategoi baru, yaitu Cerpen Anak. Tayang dua mingguan Setiap Sabtu, bergantian dengan CERPEN SABTU. Penulisnya khusus untuk anak-anak usia SD dan SMP; dia bisa saja anak kita, keponakan kita, muid-murid kita di sekolah atau cucu kita. Panjang cerpen anak cukup antara 500 – 1000 kata. Redaksi menyediakan honorarium Rp 100.000,- Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri atau ChatGPT. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Anak. Ayo, ditunggu. Silakan dikirim. Edisi perdana 7 Juni 2025. Jangan sampai ketinggalan.



