“Aku tidak mau makan, Bu!” ucapku sedikit kencang sambil menutup mulut rapat-rapat.
“Makanlah sedikit, Bella sayang. Mau mogok makan sampai kapan?” Suara lembut ibu masih terdengar, meskipun ini sudah piring ketiga yang kutolak.
Sebelumnya, ibu membuat bubur tapi tidak kusentuh. Beliau tidak menyerah, lalu membuatkan bakso. Tetap saja aku tidak mau makan, Ibu hampir menyerah. Tapi jika ia menyerah, aku tidak akan pernah makan. Akhirnya ibu memasak soto ayam.
Aku mau mencoba soto masakan ibu, tapi hanya dua sendok makan. Itu pun sudah membuat ibu bahagia karena aku mau mencoba makan walau sedikit.
Aku menghela napas, memandang jam tangan kecil berwarna merah muda hadiah dari ayah ketika ulang tahun ke sembilan.
Suara burung bersahut-sahutan dari pepohonan di depan rumah.
“Kapan ayah akan datang, Bu?”
Bibir ibu melengkung menyerupai huruf U. Seperti ia sudah hafal tabiatku, susah makan. Walaupun ibu sudah berusaha membuat masakan yang lezat, tetap saja aku enggan memakannya. Entahlah, perut ini terasa tidak lapar.
Perempuan cantik itu duduk di samping dan membelai rambut lurusku. “Makanlah lagi, sedikit pun tidak apa-apa,” rayunya.
Aku memasukkan satu suapan nasi, kemudian berdiri memandang jendela. Berharap ayah segera tiba.
Ayah mencari nafkah di luar pulau, tiga bulan sekali kepulangannya membuat waktu bersama sangat sedikit. Aku tidak bisa sering bermain dengannya seperti teman-teman yang lain. Kami hanya bisa berbicara melalui panggilan video di layar ponsel. Sering muncul rasa rindu di hati, sehingga selezat apa pun makanan akan terasa hambar.
oOo

Sebuah mobil taksi online berwarna hitam berhenti di depan rumah. Aku berlari menuju teras.
“Assalammu’alaikum.” Aku menjawab salam lalu berlari menghampiri ayah.
Ayah membetulkan kacamatanya sambil berkata, “Kok anak ayah tambah kurus, pasti belum makan ya?”
Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Setelah membersihkan diri, ayah mengajak memasak sajian istimewa bersama. Aku melompat kegirangan dan mengikuti ayah menuju dapur.
“Bella, tolong ambilkan wortel di kulkas!”
“Oke, Ayah.” Secepat mungkin aku menuju kulkas, mengambil wortel dan beberapa bahan lain yang disebutkan ayah.
Ayah begitu lincah memotong-motong bahan. Aku melihatnya dari samping meja dapur. Tak terasa masakan itu matang. Sepanci sup merah masakan ayah. Mirip dengan buatan ibu, namun terdapat buah tomat yang dihaluskan sehingga kuahnya pun berwarna merah.
Aku, ayah dan ibu makan bersama. Rasanya sangat bahagia bisa berkumpul dan makan bersama.
“Hmm … enak sekali sup merah ini.” Aku melahap sampai semangkuk sup merah habis.
Mulai saat itu, setiap hari aku makan dengan lahap masakan ayah dan ibu. Diam-diam aku selalu mengamati ayah dan ibu memasak. Mulai dari mengupas bawang, mencuci sayuran dan mengolah bahan makanan yang lain. Mereka terlihat begitu kompak.
“Sepertinya memasak itu menyenangkan,” ucapku lirih.
Hari berganti hari, masa cuti ayah habis dan ia harus kembali bekerja ke luar pulau. Aku merasa ada yang berbeda. Makanan yang terhidang tidak selezat biasanya.
Aku mengamati ibu yang sedang duduk di depanku. Keringat terlihat membasahi dahinya. Sepertinya ia lelah memasak dan membereskan rumah seharian.
“Ibu, bolehkah jika besok aku membantu Ibu memasak?”
“Boleh saja.” Ibu tersenyum padaku.
oOo

Aku bangun pagi sekali karena akan membantu ibu memasak. Udara sejuk masuk melalui jendela dapur yang terbuka. Ingin rasanya makan sup merah seperti buatan ayah.
Aku mengupas bawang, mencuci dan memotong sayuran, menghaluskan tomat, mengisi panci dengan air dan belajar menyalakan kompor. Ternyata memasak melelahkan. Kurasakan panasnya uap dari panci. Memasak juga perlu berhati-hati agar tidak terluka terkena pisau atau air panas.
Keringat mulai bercucuran, aku menyadari bahwa memasak bukan hal yang mudah. Setengah jam berlalu akhirnya sup merah buatanku matang. Aku mencicipi sedikit untuk memastikan sup buatanku lezat. Ternyata sup ini rasanya tidak enak. Aku pun bingung untuk menyajikannya. Jika ibu memakan sup ini, rasanya tidak lezat. Tetapi jika aku membuangnya akan menjadi mubazir.
“Jika sup buatanku tidak lezat, apakah Ibu akan tetap mau memakannya?” Aku berwajah bingung sambil membawa semangkuk sup.
“Ya, Ibu akan memakannya meskipun supnya tidak lezat karena tetap saja kamu sudah memasaknya dengan susah payah.” Ibu tersenyum sambil melahap sup buatanku.
“Bagaimana rasanya, Bu?” aku semakin gelisah.
Ibu tersenyum, lalu mengambil ponselnya dan membuka beberapa tutorial cara memasak sup merah di Youtube. Aku memperhatikan dengan seksama.
“Bagaimana mau mencoba lagi?” tanya Ibu.
Aku nyengir, memperlihatkan barisan gigiku yang rapi, “Tentu saja, Bu.” Aku tidak akan menyerah dan akan terus berusaha untuk dapat memasak sup merah yang lezat.
Namun, beberapa kali aku mencoba tetap tidak berhasil. Rasanya tidak enak. Terkadang terlalu asin, terlalu manis, terlalu asam, bahkan tidak ada rasanya. Namun seburuk apa pun makanan yang kuhidangkan, ibu tetap menghabiskannya.
Aku memandang wajah ibu, sama sekali ia tidak berkeluh kesah tentang buruknya masakanku. Aku jadi menyesali perbuatanku selama ini.
“Maafkan aku Ibu, selama ini telah merepotkan dengan selalu menolak masakan Ibu. Padahal bukan hal mudah untuk membuatnya. Aku berjanji akan makan apa pun yang Ibu masak.”
Ibu tersenyum dan memelukku.
Keesokannya, aku bangun lebih pagi untuk mencoba memasak menu yang lain. Selalu seperti ini setiap hari. Seperti biasa, ibu selalu mendampingi. Hanya saja, sekarang aku mau mendengarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan ibu. Agar masakanku tidak salah lagi. Hingga akhirnya aku mempelajari bagaimana cara memasak yang benar, sifat-sifat bahan makanan dan cara mengolahnya. Yang terpenting, aku tahu bahwa sebenarnya sayuran itu rasanya tidak seburuk bayanganku dan jadi lebih menyukai makan sayuran.
Waktu terus berjalan, aku semakin pandai memasak. Ibu duduk di ruang makan menunggu aku menghidangkan masakan hari ini. Seriring cah sayuran hangat dan nasi kubawa dengan nampan berwarna biru.
“Bagaimana rasanya, Bu?” Aku menunggu dengan cemas.
“Hmmm, enak sekali.” Ibu mengarahkan ibu jarinya ke atas.
“Sungguhkah?”
Ibu mengangguk. “Bolehkah aku membawakan untuk teman-temanku di sekolah?”
“Tentu saja.”
Aku memasukkan masakanku ke dalam kotak makan untuk dimakan bersama teman-teman di sekolah. Aku sangat senang karena dapat mengolah sayuran menjadi masakan yang lezat.
oOo
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Aku berdiri di dekat kompor. Mengaduk-aduk sup merah istimewa untuk seseorang yang istimewa. Karena berawal dari makanan ini, beliau telah mengajarkanku bagaimana menghargai makanan dan usaha yang dilakukan untuk membuatnya.
“Sudah selesai, Bella?” tanya Ibu.
“Sedikit lagi.” Aku mengedipkan mata.
Tak lama terdengar suara mesin mobil dari depan rumah. Aroma sup merah yang lezat menyambut kedatangan ayah.
“Wah, anak ayah sudah pandai memasak.” Ayah mencubit pipiku yang mulai bundar.
Aku tertawa. Terima kasih ayah dan ibu yang telah mengajarkan banyak hal padaku. Hingga akhirnya aku tahu bahwa kita harus menghargai makanan karena memasak itu susah dan melelahkan.
oOo


TENTANG PENULIS: Reyna Vanindya duduk di kelas enam SD. Ia sangat suka membaca dan menulis. Penulis pernah memenangkan lomba menulis juara 1 yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Surabaya. Penulis juga memiliki beberapa buku antologi. Selain menulis cerita Reyna juga suka bermain piano dan pemrograman robotika.

CERPEN ANAK: Mulai Juni 2025 ada kategoi baru, yaitu Cerpen Anak. Tayang dua mingguan Setiap Sabtu, bergantian dengan CERPEN SABTU. Penulisnya khusus untuk anak-anak usia SD dan SMP; dia bisa saja anak kita, keponakan kita, muid-murid kita di sekolah atau cucu kita. Panjang cerpen anak cukup antara 500 – 1000 kata. Redaksi menyediakan honorarium Rp 100.000,- Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 2-3 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri atau ChatGPT. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Anak. Ayo, ditunggu. Ini cerpen anak yang pernah tayang. Klik gambar di bawah ini:



