Fiksi Mini: Kereta Terakhir Karya Yunita

Peron stasiun tua itu sunyi, hanya ditemani dengung lampu neon yang nyaris padam. Malam sudah larut, angin membawa bau besi berkarat. Di bangku kayu, seorang pemuda bernama Raka menunggu sambil mengetuk-ngetukkan kakinya, resah.

Tak lama, seorang wanita dengan mantel hitam panjang muncul. Wajahnya pucat, tapi senyumnya menenangkan. Ia duduk tak jauh dari Raka.

“Kereta terlambat?” tanyanya pelan.

Raka mengangguk. “Iya. Padahal katanya tepat waktu. Mungkin ada gangguan di jalur.”

Wanita itu menatap jam tua di dinding stasiun yang jarumnya berhenti di angka dua belas. “Kereta terakhir memang selalu terlambat. Agar orang punya kesempatan terakhir untuk berpikir.”

Raka mengernyit. “Kesempatan terakhir? Maksudnya apa?”

Wanita itu hanya tersenyum samar. “Nanti kamu akan tahu.”

Suara pengeras tiba-tiba berderit: “Perhatian, kereta terakhir segera tiba. Mohon bersiap di jalur satu.”

Dari kejauhan, suara deru roda besi mendekat, makin keras hingga seluruh lantai peron bergetar. Kereta berhenti dengan decitan panjang. Pintu terbuka otomatis, memperlihatkan gerbong kosong yang remang.

Mereka masuk. Raka memilih duduk di seberang wanita itu. Ia mengusap tangannya yang dingin. “Aneh, biasanya ada penumpang lain. Kok sepi sekali?”

Wanita itu menunduk, lalu menatap matanya. “Karena malam ini hanya kita yang dijemput.”

“Dijemput?” Raka merasa bulu kuduknya berdiri. “Maksudmu apa?”

Wanita itu menghela napas panjang. “Kamu tidak sadar, Raka? Kecelakaan di tikungan tadi sore—bus terguling, puluhan orang meninggal. Aku salah satunya… begitu juga kamu.”

Kata-kata itu menghantam keras. Raka terdiam, lalu ingatan menyerbu: suara rem berdecit, kaca pecah, tubuhnya terlempar, darah mengalir di pelipisnya. Ia ingat orang-orang berteriak di sekelilingnya. Dadanya terasa kosong.

Lampu gerbong padam, hanya menyisakan cahaya redup yang berkelip. Kereta melaju makin cepat, suara roda besi bercampur bisikan samar. Seperti puluhan suara lain, lirih memanggil, menangis, tertawa.

“Tidak…” Raka bangkit, mencoba membuka pintu. “Aku masih hidup! Aku harus pulang!”

Pintu tidak bergeming. Ia meninju kaca, tapi bayangannya justru retak dan pecah menjadi wajah-wajah asing.

Wanita itu tetap tenang. “Kita semua pernah ingin kembali. Tapi peron ini… tidak pernah tidur. Ia menunggu jiwa-jiwa yang tersesat. Sekali naik, tidak ada jalan pulang.”

Kereta bergetar keras, seakan terangkat dari rel. Dari jendela, Raka melihat stasiun semakin jauh, lalu lenyap ditelan kabut.

Ia menjerit, suaranya tertelan raungan roda besi. Wanita itu menutup mata, pasrah.

Lalu, dalam sekejap, cahaya putih menyapu gerbong. Kereta lenyap begitu saja, meninggalkan peron yang kembali hening.

Seorang penjaga malam datang dengan senter tua, bergumam sendiri, “Aneh… padahal stasiun ini sudah ditutup dua puluh tahun lalu. Tapi setiap malam, aku masih mendengar kereta lewat.”

Dan peron itu, benar-benar tak pernah tidur.

oOo

TENTANG PENULIS: Perkenalkan saya Nirma Yunita. Berikut saya kirimkan fiksi mini.  semoga fiksi nini yang saya buat berkenan dimuat, agar saya semakin rajin membuat karya saya dalam bentuk fiksi mini.

FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==