Literasi Keluarga: Tangan Kiriku Oh Tangan Kiriku

Ketika saya muda, jika di sebelah kanan atau mengenakan kemeja-blazer tangan panjang seperti tampak di foto, orang-orang tidak menyadari kalau tangan kiri saya buntung sesikut.

Problem muncul ketika traveling dan tiba di sebuah kota. Saya selalu tertarik ke pusat keramaian seperti pasar. Selalu ada cewek cantik melihat saya dari sisi kanan. Biasanya saya memutar agar si cantik melihat tubuh saya secara utuh. Muncul banyak respon. Misalnya:

“Ih, udah buntung sok cakep!”

Saya tersenyum dan menjawab, “Emang ada di undang-undangnya cowok buntung dilarang sok cakep?”

Dan saya selalu melayani respon mereka dengan senyuman. Saya ingin saat mereka pulang ke rumah punya kesan baik terhadap saya atau secara umum terhadap orang cacat.

Sejak di usia 11 tahun, Bapak menyuruh saya membaca agar saya lupa bahwa tangan kiri saya buntung. Itu memang betul. Proses membaca membuat saya berpikir logis, bahwa saya tidak cacat. Saya hanya kehilangan beberapa kilo daging saja.

Tapi banyak juga cewek yang merespon positif. Mereka membalas senyum saya. Begini dialognya:

“Eh, kenapa itu tangannya?”

Kalau sudah begini, saya semakin gembira dan membalas dengan dialog norak:

“Tabrakan motor. Biasa anak jalanan.”

Dan jangan kaget, kadang si cewek jadi cinta lokasi atau jadi sahabat. Allah SWT memang bijaksana.

Ya. Begitulah. Jika yang bertanya anak kecil, “Kak, kenapa tangannya?” Saya jawab, dimakan buaya saat berenang di sungai.”

Tapi setelah berkeluarga jadi suami dan ayah, tentu saya menceritakan yang sesungguhnya:

###

“Di Kota Serang, 1974. Saya di kelas 4 SD. Ada perayaan hari ABRI. Kami kecil terinspirasi melihat tentara terjun payung di alun-alun kota.

Kami berebut ingin jadi Jenderal Kecil. Maka dibuatlah sayembara, siapa yang berani melompat paling tinggi dari pohon, maka dia layak jadi Jenderal.

Saya berhasil melompat paling tinggi. Tapi tangan kiri saya patah. Dibawa ke dukun. Salah penanganan. Akhirnya diamputasi.”

###

Bapak dan Emak memang hebat. Mereka menyuruh saya melakukan 3 hal agar tidak meratapi nasib dan agar saya lupa bahwa tangan kiri saya buntung.. Yaitu bada subuh lari pagi di alun-alun Kota Serang, sepulang sekolah badminton, malam hari sebelum tidur mendengarkan Emak bercerita. Di sela-sela itu, saya diharuskan membaca. Bapak -Emak membangun perpustakaan kecil di rumah.

Dengan melakukan 3 kegiatan itu : olahraga, membaca, dan mendengarkan dongeng, Alhamdulillah, saya bisa sampai seperti ini. Ini adalah Literasi Keluarga, parenting. Terima kasih kepada semua yang selalu mendukung saya.

Gol A Gong, Duta Baca Indonesia 2021-2025 , “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat.”

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==