Puisi Esai Gen Z: Ketika Jalan Menuju Rumah Tuhan Tertebas Angka Keserakahan Karya Wahyu Kuncoro

(Sajak-sajak ini memotret tragedi kemanusiaan yang bersembunyi di balik asrar agama. Sang mantan petinggi negeri terjerembap ke dasar palung paling pekat dalam pusaran korupsi kuota suci. Ayat-ayat langit kehilangan gaungnya… Bunyinya berganti menjadi gemelesir uang haram yang mengoyak nadi orang-orang kecil di perdesaan. Air mata kerinduan mereka mengering sia-sia termakan usia. Sungguh pemandangan yang menyayat kewarasan. Iblis ikut menggigil di ambang pintu. Ia sadar, tabiat jahatnya tak pernah selancang tangan manusia yang berani menimbang harga sebuah kemahaagungan. Kini, di balik jeruji besi yang bisu, lelaki berompi jeruk ranum itu tersedu. Ia menjatuhkan manik tasbihnya satu demi satu. Gelap merambat pelan menelan kesadarannya. Ia baru menyadari hal yang paling mengerikan. Ia telah sepenuhnya lupa arah kiblat.

Puisi ini diadaptasi secara emosional dari ironi dan tragedi sosial seputar penahanan mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 12 Maret 2026. Beliau ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi pengelolaan dan pembagian kuota haji (manipulasi diskresi tambahan kuota yang menguntungkan korporasi/haji khusus dan merampas antrean jemaah reguler). Kasus ini menimbulkan luka kolektif bagi ribuan calon jemaah haji yang telah menabung bertahun-tahun.) 

Sumber Berita: 
https://bengkulu.antaranews.com/berita/462175/kpk-resmi-tahan-yaqut-cholil-qoumas-terkait-kasus-korupsi-kuota-haji

-o0o-

Kamera memberondong wajahnya di ambang pintu kaca.
Kilat cahaya menyayat ruang yang mendadak pengap.
Lelaki itu melangkah gontai. 

Jubah sucinya telah lucut.
Rompi sewarna jeruk ranum membungkus tubuhnya yang biasa dipeluk hangat sutra doa.
Sang gembala menanggalkan tongkatnya. Memilih berdiri tegak sebagai pialang di pasar lelang air mata.
Di luar gedung, hujan turun satu-satu. Mendarat pasrah di atas aspal basah. Mengaburkan riuh rendah sumpah serapah.
“Apakah dingin dinding itu?” angin berbisik di sela jeruji besi. 

-o0o-

Lelaki itu pernah menjadi muara fatwa.
Telunjuknya begitu akrab menuding langit,
merapal ayat-ayat suci yang menguar harum gaharu dan kasturi. 

Ia mengenang malam laknat itu.
Angka-angka berjejalan memenuhi batok kepalanya.
Harga sebuah perjalanan menuju rumah Tuhan telah ia timbang dengan saksama di atas neraca nirlaba.
Ribuan doa jamaah antre bersimpuh di pelataran Ka’bah. 

“Berapa harga sebuah perjalanan menuju Baitullah hari ini?” tanya sebuah suara parau di ujung telepon.
“Tiga keping emas untuk satu antrean,” sahutnya lekas.
Suaranya sangat tenang.
Napasnya amat datar.
Hatinya entah bersembunyi di palung mana.
Angin petang berembus membawa kabar nirmala yang telah lebam. 

-o0o-

Gemerlap takhta menyilaukan akal budi.
Ia melangkah gagah membalut diri dengan jubah kebesaran.
Menabur petuah suci dari atas mimbar.
Tersenyum teduh menasihati tentang asrar dan fananya dunia.
Di balik lipatan jubah itu, tangannya rakus menghitung lembaran fana.
Kertas-kertas bernyawa yang menebas harapan kaki-kaki renta. 

“Aku hanyalah perantara Tuhan, dan setiap perantara butuh pelumas”, bisiknya dalam monolog yang kelam. 

Air mata jamaah adalah anggur merah yang ia reguk setiap senja.
Sangat manis.
Teramat memabukkan.
Menyesatkan kewarasan… 

-o0o-

Di ambang pintu, sebuah siluet gelap memanjang.
Ia ternyata tidak sendirian..
Ada bayangan hitam bersila.
Bertanduk samar.
Menunduk terpekur.
Iblis itu merapikan sayapnya yang kelam. 

“Bahkan aku tak pernah punya nyali melelang rumah Tuhanku,” gumam iblis itu, bergidik ngeri dan menunduk dalam-dalam.
Bahkan iblis pun merasa teramat kerdil bila berpapasan dengan sang makelar surga.

-o0o-

Jauh dari hiruk pikuk kota,
di sebuah desa yang dibekap senyap.
Seorang perempuan renta melipat mukenanya yang mulai menguning termakan usia. 

Tanah warisan sepetak sudah raib dijual murah.
Tabungan di bawah kasur telah tandas.
Nama yang ia tunggu bertahun-tahun tak kunjung mengudara di pelantang suara masjid. 

Usianya meranggas bagai daun kemarau.
Mimpi mencium batu hitam Hajar Aswad menguap pelan bersama kabut pagi. 

Ia menatap langit yang kosong.
“Mungkin Tuhan sedang sangat sibuk menerima tamu,” gumamnya getir. 

Tuhan sama sekali tidak sibuk.
Tuhan sedang digadaikan di meja birokrasi. 

-o0o-

Di sudut lain kota, tangis pecah tak bersuara.
Kekejaman membiak tak selalu bertakhta.

Di beranda gubuk bambu, Kasim mengelus peci lusuhnya.
Dua puluh musim ia memeras keringat di ladang kerontang.
Menabung kepingan rupiah demi menyentuh dingin dinding Baitullah. 

“Mungkin Tuhan meminta kita menunggu lebih lama,” gumamnya, menyeka air matanya dengan ujung lengan baju yang lusuh. 

Ia tidak tahu.
Ia tidak pernah tahu antreannya telah ditukar dengan segepok kertas bernilai miliaran rupiah.
Kertas yang kini menjadi alas tidur sang lelaki di ruang pesakitan. 

-o0o-

Malam bertambah larut.
Lelaki itu merapatkan kerah rompinya.
Ia duduk menghitung manik-manik tasbih di balik dinding jeruji yang bisu.
Satu. Dua. Tiga.
Bunyinya nyaring membentur lantai semen yang dingin.

Setiap butir yang jatuh adalah jelmaan jamaah yang gagal terbang mengangkasa.
Punggung-punggung renta yang gagal tersungkur mencium wangi Hajar Aswad.
Tuhan sedang duduk tenang di pelataran Ka’bah.
Menatap ribuan kursi kosong yang telah dirampas sang tuan. 

Langit di atas sana perlahan memudar.
Cahaya padam.
Udara membusuk oleh penyesalan yang terlambat datang.
Ia memejamkan mata.
Tiba-tiba saja ia ingin bersujud.
Ia ingin meratap. 

Namun, bibirnya kelu membeku.
Ruangan itu serba bujur sangkar.
Semuanya tampak sama. 

Ia menangis.
Ia baru sadar, ia telah lupa arah kiblat.

KPK resmi tahan Yaqut Chalil Qoumas terkait kasus korupsi kuota haji.

    Link Sumber : https://www.google.com/amp/s/bengkulu.antaranews.com/amp/berita/462175/kpk-resmi-tahan-yaqut-cholil-qoumas-terkait-kasus-korupsi-kuota-haji

    Tentang Penulis:

    Wahyu Kuncoro, hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri. Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran. Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.

    PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

    Artikel yang Direkomendasikan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==