Robohnya Surau Kami: Cerpen yang Menampar Kesadaran

Oleh: Adam Choili – Relawan Rumah Dunia

Pagi itu, aku mengunjungi perpustakaan Rumah Dunia untuk mencari bacaan yang menarik. Setelah menelusuri deretan rak dari kategori ilmu pengetahuan hingga novel, pilihanku akhirnya jatuh pada buku kumpulan cerpen legendaris, Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis.

Sebenarnya, buku ini pernah beberapa kali direkomendasikan oleh Mas Gol A Gong ketika awal pertemuanku dengannya di Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 42. Beliau merekomendasikan buku tersebut karena menurutnya sangat bagus untuk dibaca. Karena itu, saat menemukannya di rak perpustakaan, aku langsung tertarik untuk membacanya.

Aku akhirnya membuka cerpen pertama yang berjudul Robohnya Surau Kami, sama seperti judul bukunya. Aku merasa tertarik karena biasanya cerpen pertama menjadi salah satu cerpen unggulan dalam sebuah kumpulan cerpen. Selain itu, aku juga penasaran bagaimana A.A. Navis akan membawaku masuk ke dunia cerita yang ia ciptakan.

Dalam cerpen pertama diceritakan tentang sebuah surau yang dirawat oleh seorang kakek yang mendedikasikan hidupnya untuk tempat ibadah tersebut. Ia tinggal di sana selama puluhan tahun dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari surau itu. Bagiku, hal ini merupakan fenomena yang menarik karena rasanya saat ini sudah jarang orang yang mengabdi di tempat ibadah dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan materi.

Konflik cerita bermula dari kedatangan Ajo Sidi, sosok yang gemar bercerita dengan gaya yang satir tetapi terasa dekat dengan kenyataan. Ajo Sidi menceritakan kisah tentang Haji Saleh, seorang hamba yang taat beribadah, tetapi ditolak masuk surga karena selama hidupnya hanya sibuk beribadah untuk dirinya sendiri tanpa peduli pada keadaan masyarakat di sekitarnya.

Melalui tokoh Haji Saleh, penulis seolah ingin menyampaikan bahwa kesalehan yang hanya berfokus pada diri sendiri dapat menjadi sesuatu yang berbahaya. Pesan ini terasa sangat relevan karena ibadah ritual menjadi tidak sempurna ketika seseorang menutup mata terhadap realitas sosial dan kesulitan yang dialami orang lain.

Setelah mendengar cerita tersebut, sang kakek mulai mempertanyakan seluruh pengabdiannya selama ini. Ia merasa sedih dan marah hingga akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Bagian ini membuatku ikut merasakan kesedihan yang dialami sang kakek. Sebagai pembaca, aku juga merasa masih sering luput dari kewajiban agama. Aku bahkan sempat bertanya dalam hati, “Termasuk golongan manakah diriku?” Semoga aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Cerpen pertama ini terasa seperti tamparan keras bagiku sebagai seorang muslim.

Selain cerpen utama, ada juga cerpen lain yang menarik, seperti Anak Kebanggaan dan Nasihat-Nasihat. Kedua cerpen tersebut sangat menarik dari segi cerita. Aku merasa terbawa suasana dan seolah ikut berada di dalam cerita yang disajikan.

Dalam cerpen Anak Kebanggaan, aku menemukan banyak hal yang pernah kulihat bahkan kualami sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Semua pengalaman itu dikemas dalam sebuah cerita pendek yang membuatku tidak merasa bosan saat membacanya.

Cerpen berikutnya adalah Nasihat-Nasihat. Cerita ini mengisahkan seorang tua yang gemar memberikan nasihat kepada banyak orang. Karena dianggap bijaksana, tidak sedikit orang yang datang untuk meminta saran kepadanya. Hal ini mengingatkanku pada banyak anak muda yang terkadang lebih menginginkan nasihat dari orang lain daripada mendengarkan keinginan dan pertimbangan dirinya sendiri.

Suatu ketika, seorang pemuda datang meminta nasihat kepadanya. Saat membaca bagian ini, aku merasa seolah akulah pemuda tersebut yang selalu bertanya kepada orang lain. Namun, yang paling menarik justru bagian akhir ceritanya. Ternyata pemuda itu tidak menjalankan nasihat yang telah diberikan kepadanya.

Anehnya, aku justru merasa senang membaca bagian tersebut. Bahkan ketika pemuda itu kembali datang untuk meminta nasihat setelah mengabaikan nasihat sebelumnya, aku tidak bisa menahan tawa. Aku membayangkan bagaimana ekspresi sang kakek saat melihat anak muda itu kembali datang setelah tidak menjalankan nasihat yang telah diberikan.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik. Gaya penceritaannya membuatku merasa masuk ke dalam dunia cerpen yang diciptakan A.A. Navis. Aku seolah menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Karena itu, aku sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Terlebih, cerpen Robohnya Surau Kami yang menjadi pembuka buku ini masih terasa relevan dengan kehidupan saat ini.

RAK BUKU  adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==