Ade Ubaidil, Penulis Banten dan Surat Masa Lalunya

Cerita-cerita yang ditulis Ade dalam buku ini menciptakan ruang tersendiri. Ade banyak memotret kehidupan sosial saat ini. Di tangannya, semua cerita yang dilihatnya, atau mungkin dialaminya digubah Ade menjadi cerita yang menarik. Cerpen-cerpennya juga menyuarakan pesan-pesan yang cukup kuat terkait persoalan-persoalan yang ada di sekitar kita, seperti misalnya tentang nasib warga miskin yang kebakaran jenggot saat harga BBM naik dan lain sebagainya.

Dari keseluruhan cerpen yang ada dalam buku ini, kurang lebih ada lima cerpen Ade yang membahas mengenai cerita-cerita yang tragis atau saya lebih senang menyebutnya sebagai cerita yang berakhir pada kematian. Kebanyakan Ade memang berbicara soal cerita-cerita yang dekat dengan kehidupannya atau barangkali kehidupan banyak orang? Cerita dalam buku ini beragam; mulai dari kisah tentang penyair, memata-matai kerja penulis, atau cerita yang menyinggung tentang gunung pinang dan jejalon, makanan keripik singkong yang ada di Kota Serang.

Kelima cerpen yang bicara soal kematian atau akhir yang tragis itu antara lain cerpen; Sepasang Sandal di Depan Pintu Neraka, Kupu-kupu Kematian, Jejolan Ibu, Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen, dan Yang Mati di Bumbungan.

Sepasang Sandal di Depan Pintu Neraka merupakan cerpen yang menurut saya cukup kuat diantara yang lain. Cerpen ini bercerita tentang tokoh utama “Aku” yang diceritakan sebagai Kiai yang sudah masuk surga dan ingin mencari Kakaknya di Neraka, yang mati karena meminum miras oplosan. Si tokoh utama ini hakul yakin jika Kakaknya pasti ada di Neraka karena dosa-dosanya yang telah dia lakukan di dunia.

Maka Sang Kiai mengunjugi Neraka. Tapi saat hendak masuk ke Neraka, si tokoh utama diminta melepaskan sandalnya terlebih dahulu oleh malaikat Malik. Lantas ia baru diberi izin masuk dan melihat-lihat di Neraka. Banyak orang disiksa dalam neraka, begitu juga saat melihat jembatan Shiratal Mustaqim, banyak orang yang disiksa dalam lautan api itu. Bahkan banyak dari mereka yang berpakaian gamis dan bersorban.

Sudah berkeliling Neraka, si tokoh utama tak menemukan Kakaknya di sana. Malah ia yang akhirnya tak bisa keluar dari Neraka, sebab sandal yang tadi ia pakai merupakan sandal milik Kakaknya. Dalam cerpen ini Ade sangat lembut memasukkan pesan yang ingin disampaikannya lewat malaikat Malik yang berkata: Begitulah bangsa kalian yang dianugerahi hawa nafsu. Kesombongan tak secuilpun pantas kalian genggam. Memohon ampunan ketika sudah berada di neraka adalah hal sia-sia. Cerpen ini ditutup dengan adegan sang tokoh utama dilemparkan oleh malaikat ke lautan api, hingga sang tokoh mendarat di hadapan guru mengajinya.

Jejolan Ibu, juga hampir sama berkisah soal kesedihan, berbicara soal kematian. Kali ini sol kematian keluarga miskin. Diksiahkan bahwa ibu Ishaq penjual Jejolan. Stuatu hari ia lupa mematikan tungku api bekas menggoreng singkong. Lantas bersama anaknya ia pergi ke sawah mengantarkan makanan untuk suaminya. Tak berselang lama, orang kampung datang mengabarkan bahwa rumahnya terbakar. Pak Ishaq lantas berlali dan mencoba menyelamatkan seragam sekolah dan buku-buku pelajaran milik anaknya. Ia menerobos masuk dalam rumahnya yang tengah terbakar. Tapi Ishaq kemudian limbung dan ambruk. Paru-parunya kehabisan oksigen. Luka menjalar di beberapa bagian tubuhnya (hal 87).

Cerpen Yang Mati di Bumbungan, menceritakan tokoh utama seorang penulis yang merasa terganggu dengan teriakan seorang anak kecil tiap malam. Saat ditanya kepada si anak, ia takut kepada hantu yang ada di jembatan. Tiba-tiba si anak (pada hari yang lain) berteriak di bumbungan rumah. Lantas pingsan dan ayam-ayam berkumpul di dekatnya. Ade menulisnya begini: Ayam-ayam sudah seperi sekumpulan serigala; yang menerkam, mencabik, mengoyak tubuh mangsanya. Belum lagi terus saja berkokok saling sahut, macam sedang melonglong dan mengabarkan pada semua kalau mereka paling berkuasa. Padahal hanya sekumpulan ayam. (hal 107).

Sepeda Keranjang dan Pohon Kersen bercerita soal anak kampung yang berprestasi dan saat sudah wisuda ia pulang dan ingin mengabarkan kebahagiaan itu pada ayahnya. Tapi saat pulang ternyata ayahnya sudah meninggal.

Sementara dalam cerpen Kupu-kupu Kematian, berbicara tentang anak kecil yang mengalami gangguan jiwa dan membuhun Kakak dan juga ayahnya. Dalam penulisan ini Ade membingkainya seperti pazzle. Namun menurut saya, ada logika cerita yang agak kurang pas dalam cerpen ini. Coba perhatikan kalimat akhir ini, saat ayahnya dibunuh, sang istri tak mendengar suara jeritan sang Ayah. Padahal Ade menulis: dari dapur, suara dengkur Saptani tak terdengar lagi. Istrinya khawatir, lantas menuju kamar… (hal 61). Jika suara dengkur saja masih bisa didengar, lantas mengapa suara jeritan sang Aayah tidak terdengar?

Terlepas dari semua itu, membaca cerpen-cerpen Ade dalam buku ini saya seperti tengah mendengarkan sebuah dongeng yang disampaikan Ade dengan baik dan indah, mesti kadang di akhir cerita kita dibuat kaget dengan akhir cerita yang tragis dan menyedihkan. Barangkali ini surat-surat Ade yang berbicara tentang masa lalu dan juga kematian. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==