Ingat Sengkon dan Karta? Kisah tragis yang melegenda. Mereka rakyat jelata yang menjadi korban peradilan sesat pada 1974. Para hakim dan jaksa yang memvonis mereka bersalah dalam kasus pembunuhan penjaga warung di Bojongsari, Bekasi, Jawa Barat pasti merana sepanjang hidupnya.

Bayangkan! Setelah 6 tahun di sel, Sengkon dan Karta bertemu dengan Gunel si pembunuh sesungguhnya. Sengkon yang divonis 12 tahun penjara dan Karta 7 tahun penjara akhirnya dibebaskan.

Kita disodorkan peristiwa-peristiwa “aneh dan ganjil” di dalam kumcer ini, yang harus ditelan walaupun terasa pahit. Saya sepertinya mengenal kota dan negara di buku kumcer ini. Bahkan tokoh-tokohnya. Tadinya saya duduk nyaman ketika membacanya, kemudian langsung berdiri dan ingin memprotes ketidakadilan yang terjadi di buku ini. Beberapa teman saya mengalami hal geit eperti di uku ini. Ah, mau protes kepada siapa? Tuhan? Turun ke jalan, berdemontrasi ala mahasiswa? Sungguh tidak pantas orang tua seperti saya melakukan itu. Atau cerpen diprotes dengan cerpen saja?

Kehidupan manusia (Indonesia) itu memang absurd. Saya kadang sulit memahami, ketika ada Pak Anu yang sudah jadi tukang becak selama 30 tahun tetap miskin tapi berhasil menyekolahkan putrinya hingga jadi sarjana. Ada ayah tiri yang memerkosa puri tirinya, bupati yang merasa gaji perbulannya kecil, koruptor yang tersenyum dan penuh makna, dan masih banyak lagi peristiwa nyata solah fiksi. Sulit dipahami dan irrasional.

Atau awal September 2021, media massa dihiasi pengacara kondang Hotman Paris, yang mengajak followernya untuk meminta maaf kepada pemilik mini market di Malang yang melaporkan dua ibu pencuri susu demi anak mereka. Hotman Paris menulis di medsosnya tertanggal 8 September 2021, “Kedua ibu tersebut memang salah secara hukum, tapi memaafkannya adalah tindakan mulia. Atas nama 2 ibu ini Hotman minta maaf kepada pemilik toko atau supermarket! Maafkan mereka yang salah tapi sedang menderita kegetiran ekonomi!” Pengacara yang bertarif mahal itu siap mengganti rugi asalkan mereka tak diproses hukum. Absurd!

Kumpulan cerpen ini unik. Berisi 10 cerpen tapi ditulis dua orang. Semakin unik ketika komposisinya tidak berimbang. Khafidlul Ulum menulis 8 cerpen: Kisah Abdul dan Maqbul, Jaksa Muntab, Semut Diinjak Pun Membalas, Jasus Markus, Polisi Wartawan, Intel Kuburan, Allahu Akbar Paling Kencang, dan Jubah Penyamaran. Sedangkan A Dwi Prasetyo menulis sisanya: Arnold Schwarzenegger-nya Indonesia dan Pengawal Tahanan.
***


