Yang penting, prinsip bebas dan bertanggung jawab harus kita pegang. •Jangan memfitnah. •Harus berdasarkan fakta data! Tentu harus menggunakan diksi-diksi yang santun. Itu memang pilihan.

Hanya saja, kita harus proporsional. Jangan asal bicara. Seperti yang saya lakukan. Saya hanya mampu alias kompeten ketika mnegkritik para penguasa di Banten. Saya memiliki fakta dan datanya. Jika mereka menyimpang, saya kritik. Tapi untuk Indonesia yang bermarkas di Jakarta, saya tidak kompeten.

Saya lebih nyaman menuangkan kemarahan saya tentang Indonesia yang dililit para koruptor ke dalam tulisan. Bisa puisi, cerpen, dan novel. Jika puisi, biasanya saya melakukan perjalanan dari komunitas ke komunitas atau dari cafe ke cafe untuk membacakannya. Puisi-puisi saya yang berisi kritikan kepada para pemimpin yang korup menyebar dan lebih cepat sampai kepada orang-orang. Contohnya buku puisi saya yang berjudul “Air Mata Kopi” (Gramedia, 2014), yang masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia, saya bacakan dari Anyer hingga Panarukan pada September-Oktober 2014.


