Barangkali ini efek samping dari 2 tahun pandemi Covid-19. Saya juga merasakannya. Kadang ada keinginan berbuat aneh-aneh. AS Laksana tampaknya sedang berada di pusaran itu, karena “frustasi” dengan honorarium cerpen sebesar Rp 50 ribu atau persoalan “status quo” dan pentingnya kedekatan sehingga muncul ide nyeleneh.

AS Laksana mengirimkan cerpen ke Jawa Pos, dimuat Minggu 6 Juni 2021. Kemudian dia membuat status terbuka pada hari itu, bahwa itu bukan cerpen karya dia, tapi karya muridnya. Dan muridnya mengizinkan. Hehehehe, mencari pembuktian dari premis “hanya penulis ternama saja yang cerpennya akan dimuat di Jawa Pos”.

