Lomba internal di Rumah Dunia sangat penting. Tentu dengan iming-iming hadiah. Itu yang dinanti anak-anak.
Butuh Buku Anak-anak Untuk Lomba di Rumah Dunia

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Lomba internal di Rumah Dunia sangat penting. Tentu dengan iming-iming hadiah. Itu yang dinanti anak-anak.

Gala Baca edisi Isro’ Mi’roj ini istimewa, karena dihadiri dua tokoh literasi Indonesia, yaitu Gol A Gong dan Firman Venayaksa.

Pertemuan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia ke-40 dimulai pada Minggu, 3 Maret 2024. Biasanya diisi dengan perkenalan, motivasi dari Gol A Gong. Kemudian pertemuan setiap hari Minggu, pukul 13.00 – 16.00 WIB.

Bu Ade memberi contoh kepada kami, bagaimana potensi daerah bisa dikembangkan oleh Bumdes, sehingga memiliki manfaat bagi desa. Itu bisa diadopsi di Flores Timur.

Membaca nyaring, biasakan di rumah. Luangkan waktu. Waktu sebelum tidur boleh juga.

Indonesia sudah aku susuri. Baru 20 negara. Pelan-pelan. Ya, belum tuntas. Semoga Allah SWT memberiku kesehatan dan rezeki.

Musim durian di awal tahun. Jangan sampai terlewat. DSurian lokal tidak kalah rasanya.

Rencana 20 Lokus Kegiatan Duta Baca Indonesia 2024:Regional 1 (Aceh, Medan, Bangka Belitung, Palembang, Jambi)Regional 2 (Kab. Malang, Larantuka, Semarang, Denpasar, Lombok Tengah)Regional 3 (Banjarmasin, …

“Kami senang ketika tempat tongkrongan dijadikan ruang berbagi pengetahuan bagi remaja. Ini siasat menarik. Nongkrong iya!, buku iya!” sebut Tya, pemilik Up Coffee Pakau.

Pada kesempatan itu Duta Baca Indonesia mengajak kepada para peserta, terutama para ibu untuk membacakan cerita pada anaknya sebelum tidur.

Awalnya 12 lokus/tahun, sekarang di 20 lokus, yang biasanya 3 hari 2 malam dibiayai APBN, alhamdulillah bisa 4 hari 3 malam, sehinga kehadiran Gong bisa dimaksimalkan.

Selama masih ada pengungsi di lokasi pengungsian, PGRI akan tetap konsisten hadir memberika bantuan. Walau dalam keterbatasan, kami tetap bergandengan tangan menunjukan rasa solidaritas kami

Aku memilih melahirkan anak-anak nanti di Serang dengan satu alasan: agar Banten semakin dekat denganku. Soalnya hubby yang lahir di Purwakarta dan sejak umur 2 tahun (1965) sudah tinggal di Serang, sering dipersoalkan sebagai bukan orang Banten.

Jika orang-orang di bandara El Tari tidak membutuhkan Pocadi, saya yakin akan lebih bermanfaat jika Pocadi ini dipindahkan ke ruang publik yang mudah dijangkau.

Obrolan ini tidak lama. Tapi saat hendak berpamitan pulang, justru saya diajak jalan-jalan mengunjungi Kampus Pasca Sarjana ISI dan Kampus ISI S1, Yogyakarta

Buku puisi terus diterbitkan. Anak-anak muda masih berthan dengan sastra tulis yang agung ini walaupun secara ekonomi tidak menguntungkan.

Penuh, penuh kepala saya. Jujur, saya merasa “stress” dan “terintimidasi”. Saya ingin pulang dan segera menulis. Saya ingin foto dan quote saya terpampang di dinding Balai Pustaka.