Ya, badminton. Sebelum jadi penulis, aku pernah aktif main badminton. Itu sebetulnya semacam terapi, agar aku tidak minder setelah tangan kiriku diamputasi. Bayanggkan, sejak kelas 5 SD (1975) saya latihan phisik di pagi hari atau Minggu; lari ke pantai, ke gunung, ke sawah. Sorenya latihan teknik di gedung olahraga.



Tubuh saya jadi sehat dan pikiran saya jad kuat. Sedangkan prestasi itu bonus. Lumayan juga prestasi saya. Di Banten untuk level SLTA, saya juara kedua – juara pertama tangannya dua. Di kejuaraan antar kampus – saya mewakili UNPAD Bandung, juara keempat – 3 juaranya berlengan dua.

Tapi untuk ASIAN Para Games (dulu Fespic Games), saya pernah menyabet 3 emas di Solo (1986) dan 2 emas di Jepang (1989). Sepulang dari Jepang itulah, saya gantung raket. Tota bekerja jadi penulis. Begitulah ceritaku tentang badminton. Jika ingin membaca kisahku ini, cari deh buku Gong Smash (Epigraf, 2021).



