Ya, badminton. Sebelum jadi penulis, aku pernah aktif main badminton. Itu sebetulnya semacam terapi, agar aku tidak minder setelah tangan kiriku diamputasi. Bayanggkan, sejak kelas 5 SD (1975) saya latihan phisik di pagi hari atau Minggu; lari ke pantai, ke gunung, ke sawah. Sorenya latihan teknik di gedung olahraga.
Badminton Membuatku Percaya Diri

















