Aku masih merunut kesalahannya di mana kok kerung lengan selisih banyak dan tidak memungkinkan untuk dirombak. Aku berhenti menjahit dengan rasa capek. Ini tanda aku harus berhenti. Mau sebentar atau lama, tapi berhenti dulu.

Sampai kemudian aku berniat menyerahkan jahitan ke permak jeans, karena aku sudah lelah mencari cara mengatasinya. Terserah tricknya gimana, pokoknya baju hubby jadi.
Jadi ya gitu, aku berhenti dulu menjahit, daripada tetap penasaran lalu kepikiran. Bisa-bisa aku akan mencari sumber salah di polanya, walau harus ke Timbuktu.

Hidup kadang begitu. Ada problem yang nggak bisa diselesaikan. Yaudah kalau nggak urgent tinggalin dulu, lupakan kesulitan untuk menemukan bahagia di sisi lain. Halah.
Yang terpenting adalah tetap sehat, bugar, waras, dan kaya raya. Supaya bisa beribadah lebih baik, bisa lebih menikmati hidup, bisa bantu orang yang membutuhkan, dan flexing lebih mevvah.
Oh maaf, bukan, ding. Sehat-sehat semuanya!



