Boleh saja di pusat kota Serang sedang terjadi dekonstruksi atau menjangkitkan virus amnesia sejarah di tanah Banten. Tapi 3 kilometer ke arah timur Serang, tepatnya di kampung bernama Ciloang, pusat belajar masyarakat bernama “Rumah Dunia” mendeklarasikan dirinya sebagai “rumah perubahan” di Banten.

Mengadopsi metode belajar dari alam ala Santini Ketan Rabindranath Tagore di Calcuta, India dan Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa di Yogyakarta, maka Rumah Dunia dengan gigih melakukan perlawanan moral terhadap praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme di bumi Banten dengan pena.

Mengusung misi “Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru” di Banten, para volunteer Rumah Dunia menyikapi dekonstruksi sejarah di Banten atas gedung Makodim oleh PT MMS dengan menggelar pameran buku “Gramedia Book Fair” (GBF) bertemakan “Menuju Banten Membaca, Cerdas, dan Kritis” pada 6 September hingga 11 September. Akan dipajang 1000-an judul buku di stand Gramedia Pustaka Utama, Elex, Kompas Buku, KPG, Grasindo, Mata Baca, dan Gramedia Majalah.

GBF adalah event pameran terbesar sepanjang Banten ada. Tradisi intelektual yang pernah digagas Abdul Karim dan muridnya, Syekh Nawawi Al-Bantani yang mukim di Mekkah karena tidak terakomodir gagasan-gagasan mereka di Banten, mulai dibangkitkan lagi di Rumah Dunia.

Ya, sedang terjadi paradok di tanah para sultan itu. Di satu sisi ada dekonstruksi sejarah, di sisi lain terjadi dekonstruksi terhadap budaya lisan. Ini ibarat “black September” di nol kilometer Serang dan “shinning September” di sebuah kampung Ciloang, di batas kota Serang timur.

Pertarungan antara “Banten Membaca dan Banten Belanja”. Dua akselerasi sedang terjadi; pertumbuhan ekonomi tanpa mengindahkan aspek sosial-budaya serta reading habit menuju Banten yang cerdas dan kritis.

Dimana-mana anak muda Banten menenteng hand phone terbaru dan pergi belanja, tapi juga dimana-mana anak muda Banten membaca, menghadiri diskusi dan launching buku, serta menulis. Peran serta pers lokal yang menyediakan halaman opini dan fiksi, menyemangati akselerasi “Banten Membaca” sekaligus “Banten Menulis”.

Kini kita jadi penonton saja di pinggir jalan. Apakah pertarungan dua akselerasi “Banten Membaca” versus “Banten Belanja” ini akan dimenangkan oleh salah satu di antara mereka atau keduanya jalan beriringan dan menemukan harmonisasi. Hanya sayang, jika kita semuanya keluar sebagai pemenangnya, berdiri di atas sejarah Banten yang hilang.
***
*) Serang 26 Juni 2006. Penulis adalah saat itu Presiden Rumah Dunia dan Koordinator AWAK – Aliansi Warga Kota Serang


