Tak ada ekspektasi apa-apa, hanya ingin mendampingi perjalanan Gol A Gong, bentuk tanggung jawab moral saya sebagai ketua Forum TBM Flores Timur. Mas Gong peletak dasar semangat Pengurus Pusat Forum TBM, Juga Ketu Umum Forum TBM 2010-2015.
Dari Larantuka, setelah mewawancarai Penjabat Bupati Flores Timur, Sulastri Rasyid, S.Pi, M.Si, perjalanan ke SMAS Ile Bura cukup jauh dan melelahkan. Membuatku sedikit oleng dan mabuk kendaraan. Motor saya titipkan di parkiran taman kota. Juga Maksimus Masan Kian, Ketua Umum PGRI Flores Timur.

Singkat cerita, perjalanan yang memabukkan ini akhirnya sampai juga. Kesetiaan menunggu yang sangat luar biasa dari anak-anak hebat ini. Mereka rela menunggu berjam-jam lamanya untuk bisa menerima kehormatan, bertemu Duta Baca Indonesia. Itulah pula yang coba di motivasi oleh Maksimus Masan Kian Ketua PGRI pada sambutan awal pertemuan.




Kami disambut hangat di SMAS Ile Bura. Salah satu siswanya, bahkan sejak saya datang, sudah tersenyum seolah sudah mengenal saya lebih lama sampai akhirnya saya baru tau dari anak tersebut. Ternyata dia adalah salah satu siswa dari dua pasangan guru hebat di SMPN SATAP NOBO, yaitu Pak Guru Ino Carvallo dan Ibu Guru Astyka Koten. Entah apa yang mereka berdua ceritakan tentang saya kepada si anak yang saya lupa namanya, seolah mengenal saya sebagai Idola.
Kembali ke cerita. Acara dibuka oleh sambutan hangat dari MC, kemudian Tarian Tradisional yang dinyanyikan bersama semua siswa dan guru yang hadir, sehingga menambah keakraban.




Lalu sambutan dari Ketua PGRI dan Kepala Sekolah SMAS Ile Bura, kemudian masuk pada acara inti, yaitu motivasi kisah hidup dan perjalanan Mas Gong hingga akhirnya kini menjadi Duta Baca Indonesia menggantikan Najwa Shihab.
Dari kisah hidup itu lahir pertanyaan-pertanyaan dan diskusi menarik dari para siswa yang juga turut menjawab beberapa pertanyaan atau mengajukan pertanyaan sebagai sarat mendapatkan buku langsung dari Duta Baca Indonesia.





Salah satu yang menarik adalah kisah siswi yang berkisah tentang perbedaan pendapat antara dirinya dan orang tua terkait pendidikan.
“Saya terharu, ketika mendengar cerita Pak Gong, bahwa orang tuanya mendukung dan mendorong. Sedangkan ayah saya tidak mendukung,” kata siswi tersebut.
Siswi itu kemudian menangis. Mas Gong mendekati dan menghibur dengan memberi hadiah buku.

Kisah siswi yang sungguh mengharukan. Ingin rasanya memberikan semangat padanya. Lewat nasehat bijak, Mas Gong memotivasi siswi itu, agar tidak menyalahkan si ayah.
Selepas itu, salah satu anak yang sejak awal kedatangan saya juga ikut maju dan coba berkisah tentang dirinya dan teater, bahwa dia adalah murid dua guru hebat pasangan suami istri Pak Ino dan Ibu Astri di SMPN SATAP NOBO.


Betapa terkejutnya saya kita ia menceritakan, dirinya yang hobi berteater dan fans dengan saya , sampai ia pernah membacakan puisi esai “Sengkon Karta” karya Kang Dosen yang juga Penyair hebat, Peri Sandi Huizche .
Tapi saya cukup bangga nama saya sampai juga di tempat yang bahkan jauh dari Larantuka. Bahwa inspirasi mampu berbunga dan berbuah di mana saja , jangan menyerah berbuat kebaikan, kerjakan apa yang menjadi passionmu dan tetap fokus.


Setelah foto bersama, kami diajak menikmati kuliner sederhana namun mewah, yaitu ikan kuah asam yang menggoda selera. Mas Gong nampak menikmati sajian ini.
Setelah kami berpamitan pulang dan hal yang luar biasa kembali kami saksikan sepanjang perjalanan pulang. Sebelum gelap tiba, anak-anak hebat yang menunggu kami lama itu, melambaikan tangan sambil berjalan pulang.

Mereka berjalan kaki ke arah rumah mereka yang jauh tanpa mengeluh. Terkadang kita yang gampang mengeluh dalam hidup perlu belajar dari semangat mereka menimba ilmu.
Sekali lagi, terima kasih sambutan yang hangat SMAS Ile Bura jangan malu dengan kondisi sekolah yang biasa saja tapi malu jika sekolah tanpa prestasi. Tetap semangat anak-anak hebat yang menginspirasi.




