Pada acara bedah buku yang berlangsung di halaman Balai Belajar Bersama (RB3) Rumah Dunia itu dihadiri sekitar 40 orang lebih, yang terdiri dari para peserta kelas menulis angkatan 19, mahasiswa IAIN dan Untirta, para relawan dan beberapa peserta kelas menulis angkatan 18 yang merupakan penulis dari buku kumpulan cerpen KCD.

Dalam acara bedah buku KCD berlangsung selama satu jam. Dalam pemaparannya, Gol A Gong baru bisa menyebutkan beberapa kelebihan dan kekurangan atas sembilan cerpen pertama dari sepuluh cerpen yang sudah ia baca. Cerpen gubahan Ahmad Wayang (Penulis muda sekaligus relawanan Rumah Dunia) dinilai Gol A Gong tidak termasuk hitungan.
Pada cerpen KCD karya Faisal Abdul, Gol A Gong menyatakan bahwa di antara kesembilan cerpen yang ia baca, cerpen karangan Faisal, menurut Gol A Gong dianggap paling aman. Gong mengaku tidak menemukan kekurangan pada cerpen Faisal yang dijadikan judul buku. “Cerpen ini yang saya anggap paling aman, karena saya tidak menemukan kekurangan dalam cerpennya. Ceritanya bagus, menarik dan mengalir. Tinggal si penulisnya sendiri yang memilih apakah dia akan tetap konsisten menggunakan “Gue” sebagai POV (Point Of View)-nya seperti halnya Boim Lebon atau tidak. Itu terserah si penulisnya,” tutur Gol A Gong.

Sementara pada delapan cerpen yang lain di antara kesembilan cerpen itu ada beberapa kekurangan yang Gol A Gong temukan. Misalnya pada cerpen “Ujian Akhir Semester” karya Fatiha. “Dalam cerpen ini sebenarnya ada beberapa kata yang saya anggap menarik. Tapi alur ceritanya nggak jelas, bahkan nggak ada alurnya, karena ini seperti hanya menunjukkan fragmen saja. Fatiha hanya menceritakan kejadian saat ujian di mana tokohnya meminta contekkan. Sudah, begitu saja,” papar Gong lagi.

Sementara pada cerpen berjudul “Endlessly” karya Siti Rahmi Fathia, Gong mengatakan cerpen ini menarik. “Hanya saja si penulis melakukan kesalahan pada POV-nya,” sambung Gong, yang menemukan ada kejanggalan pada cerpen “Endlessly” di mana si penulis menggunakan tokoh ‘Aku’, dalam cerpen itu menceritakan bahwa si ‘Aku’ dan tokoh si Akbar terpisah karena mereka akhirnya kuliah di kota yang berbeda. Si ‘Aku’ di Bandung sedangkan si Akbar di Jakarta, namun di akhir cerita si penulis tiba-tiba menceritakan si Akbar tahu-tahu sudah tengah meneguk kopi di rumahnya si ‘Aku’.
Dari beberapa kekurangan yang Gong beberkan, di dalam kesembilan cerpen yang ia bedah, Gong menambahkan, “Ini baru proses awal,” ujarnya. Gong juga menambahkan bahwa cerpen-cerpen yang tergabung dalam antologi KCD ini dianggap sudah lebih baik dibanding dengan cara bercerita pada proses awal kelas menulis angakatan sebelumnya.
*) Peserta Kelas Menulis RD angkatan 19. Tinggal di Serang.



