Sebgai orangtua, kita harus mampu beraaptasi dengan perkembangan zaman. Beberapa teman saya ada yang tidak sanggup melakukan itu, bahkan dengan ekstrim mengasingkan diri dan kekuarganya – terutama dari pengaruh literasi digital yang dianggapnya selalu buruk.


Anak-anak kita jadi tumbuh tidak percaya diri jika kita cabut dari zamannya yang serba digital, serba takut, tertutup, dan tidak kreatif. Mereka akan jadi anak penurut, tidak memiliki inisiatif apa-apa. Seperti katak dalam tempurung, dunia mereka hanya seputar ibu-bapak, saudara sekandung dan rumah. Ketika melangkah keluar rumah, mereka terkejut melihat dunia sangat luas, keras, bergerak cepat, dan kompetitif.
Saya adalah anak yang beruntung. Walaupun tangan kiri saya harus diamputasi pada usia 11 tahun (1974), Bapak dan Emak tidak pernah membatasi ruang gerak saya. Naik sepeda, naik motor, bertualang, apa pun yang saya lakukan, sepanjang itu positif, Bapak dan Emak tidak pernah menghalangi dengan mengatakan saya cacat, misalnya. Saya tidak tahu, bagaimana perasaan mereka, ketika menyadari saya yang berlengan satu naik-turun truk saat traveling.

“Hati-hati,” kata Bapak saat itu.
Kalau Emak, “Jangan lupa sholat.”


Tapi sekarang, Emak (2022) dan Bapak (2007) sudah berpulang. Saya tidak akan pernah mendengar lagi mereka mengatakan itu.
Pada Perayaan Hari nak Internasional 2018, tema yang diangkat adalah “Anak Indonesia Sebagai Anak Jenius”. Sebagai generasi penerus bangsa, anak-anak Indonesia diharapkan dapat menjadi anak yang:
- Gesit
- Empati
- Berani
- Unggul
- Sehat atau Genius.
Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Eni Gustina berharap, “Dengan mendidik anak-anak menjadi Genius, generasi Indonesia diharapkan dapat tumbuh sebagai pemuda yang unggul dan berkualitas pada periode emas 2045. Untuk membentuk anak yang GENIUS, orang tua harus fokus pada 1000 hari pertama kehidupan anak. Sebab, itu merupakan langkah awal yang akan menentukan dalam perkembangnya ke tahap selanjutnya.


