Saya sedang terkenang Bapak. Banyak sekali hal yang ditanamkan Bapak kepada saya. Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa apa yang dilakukan Bapak itu agar saya tumbuh kuat dan hebat sebagai lelaki berlengan satu.
Saya jadi ingat satu peristiwa menjelang lebaran bersama Bapak. Saat itu saya kelas 6 SD di Kota Serang. Setahun setelah tangan kiri saya diamputasi. Bapak mengajak saya beli baju lebaran ke Royal. Ini nama kawasan bisnis di Kota Serang. Dari rumah sekitar 1 km. Kami berjalan kaki saja. Kalau di Bandung kita mengenal Dalem Kaum, Malioboro di Yogya, Simpang Lima di Semarang, Tunjungan Plaza di Surabaya.


Siapa yang tidak senang dibawa Bapak, ayah terbaikku, ke Royal untuk beli baju lebaran. Empat anak yang lain sudah dibelikan. Saya memang minta hadiah khusus saat lebaran, yaitu seragam badminton: celana pendek dan kaos yang ada krahnya. Saya sangat terkesan dengan penampilan Rudi Hartono di lapangan All England dengan seragam serba putihnya.

Kami masuk ke sebuah toko olah raga. Pelayannya menyambut kami dengan senang. Bapak dan saya memilih-milih dibantu si pelayan.
“Ini aja, Pak. Murah,” tiba-tiba si pemilik toko muncul.
Aku perhatikan Bapak terdiam beberapa saat. Kemudian Bapak menarik saya dan pergi dari toko olah raga itu. Saya sebetulnya kecewa karena sudah ingin memiliki seragam badminton itu.

“Kita cari di toko yang lain,” kata Bapak. Lalu Bapak mengungkapkan isi hatinya. Ternyata Bapak tersinggung dengan perlakuan si pemilik toko. Uang Bapak tidak banyak tapi merendahkan orang itu tidak boleh. Setelah dewasa, saya berusaha mengingat-ingatny. Memang, nada si pemilik toko itu menghina, merendahkan kami yang berpenampilan rakyat kebanyakan.
“Bapak marah. Kalau Bapak bicara, pasti nanti akhirnya tidak baik. Bapak memilih diam dan beristighfar. Akhirnya Bapak memutuskan pergi saja. Kita cari toko olah raga yang lain.”

Jika mengingat peristiwa penghinaan itu, saya selalu mengenangnya dengan bangga. Bapak marah tapi memilih diam dan pergi. Sebagai guru olah raga, gaji untuk biaya hidup sebulan tidak cukup. Alhamdulillah, Emak juga guru sehingga membantu Bapak. Sepulang mengajar di sekolah negeri, Bapak mengajar di sekolah swasta untuk menambah penghasilan. Begitulah guru di zaman itu: pahlawan tanpa tanda jasa.
Gol A Gong/Foto sampul: beberapa bulan sebelum tangan saya diamputasi



