“Bertebaranlah kamu di muka bumi!” kata Bapak. Kemudian bicara hal sama dalam Bahasa Sunda, “Tong ngajedog di imah bae siah! Geura ka lembur batur! Ngumbara!”
Itu yang aku ingat ketika menyambut kedatangan Jordy A Harris dan Natasha Harris di terminal kedatangan, Dong Muang Bangkok, Minggu 28 Desember 2025. Aku peluk mereka.


Kakek mereka – Harris Sumantapura – seorang petualang. Jawa-Bali pernah, Makassar sudah, Sumatra hingga Medan juga. Memang dalam rangka dinas. Tapi yang paling heroik, pernah setiap tahun mengikuti ajang Napak tilas jalan kaki “Bandung Lautan Api” menempuh sekitar 200-an km jalur Bandung – Puncak – Bogor.
Walaupun kemudian aku harus kehilangan tangan kiri sebatas sikut (kelas 4 SD, 1974), Bapak-Emak tidak pernah melarangku traveling. Mereka tidak kuatir aku akan terhina di perjalanan. Mereka yakin benar, bahwa bekal yang aku terima cukup membuatku kuat.
Aku jadi paham kenapa mereka menyuruhku berolahraga, membaca, dan mendengarkan cerita sebelum tidur, itu ternyata supaya aku mengenal dunia dengan tubuh yang sehat dan berilmu.


ooo
Ya, kenapa Bapak-Emak menyuruhku harus traveling atau melakukan perjalanan? Selain itu sudah perintah Allah dalam Al Alaq dan Al Mulk, Bapak menekankan sekali agar aku mengkonfirmasi apa yang aku dapat di rumah dan perpustakaan di kehidupan sesungguhnya.
Ada analogi lain yang menurutku religius. Kata Bapak, “Ketika Bapak membangun rumah tentu senang sekali kalau ada yang memuji. Begitu juga Tuhan, yang menciptakan semesta ini. Kenapa ada asmaul husna, itu agar kamu ucapkan di depan ciptaan-Nya. Pergilah kamu dari rumah. Kunjungi dunia ini. Pujilah Tuhanmu jika kamu melihat kebesarannya. Allahu Akbar, misalnya, itu kamu ucapkan di depan gunung Himalaya!”
Ya. Dan itu terjadi! Suatu pagi di Pokhara, Nepal. Kamarku diketuk. Ketika aku buka ternyata resepsionis hotel.


“Himalaya!” teriaknya dan berlari ke pintu kamar yang lain.
Aku segera berlari menuju roof top. Begitu juga turis mancanegara lainnya. Kami semua memandang gugusan pegunungan Himalaya. Cahaya matahari pagi mulai tampak. Gulungan awan tersibak pelan-pelan. Dan semua berteriak satu kata saja!
“Allahu Akbar!” teriakku.
“Fantastic!”
“Amazing!”
“Oh, God!”
“Damn!”
Semua orang mengucapkan rasa syukur ketika berhasil melihat gugusan pegunungan Himalaya.
ooo
Bapak-Emak memang tidak bisa membiayai perjalananku. Tapi mereka membimbingku menuju ke sana. Ketika tangan kiriku diamputasi sebatas sikut di usia 11 tahun (kelas 4 SD, 1974), mereka tidak meratapinya dan tidak menganggapku sebagai aib keluarga. Mereka justru mendorongku untuk melihat dunia.
Bagiku bertualang bisa memiliki dampak positif. Pengalaman berada di luar rumah bisa membangun rasa percaya diri dan mandiri. Ini penting untuk perjalanan hidup di masa depan. Juga siap menghadapi segala risiko akibat bersinggungan dengan orang lain. Aku jadi menghargai perbedaan budaya dan agama.


Itulah mengapa aku dan istri melepas kepergian si sulung Nabila di China dan putra kedua Gabriel di UEA. Sejak kecil, Nabila dan Gabriel, juga Jordy dan Natasha, sudah kami ajak bertualang menjelajah kota demi kota di Sumatra, mulai dari Lampung hingga Medan menggunakan kapal laut, bus dan kereta. Juga Jawa – Bali mengendarai mobil sendiri. Aku dan istri – Tias Tatanka , bergantian nyetir.
Kami mengajarkan tentang transportasi, kuliner, destinasi wisata dari sisi antropologi, sosiologi, dan filosofinya. Terasa berat, ya. Tapi kami tidak pernah menganggap keempat anak itu belum saatnya menerima segala hal tadi. Justru cara terbaik mengajari anak-anak kehidupan adalah saat mereka bersama orang tuanya. Itu nanti jadi amunisi mereka di masa depan.
ooo
Kini aku bersama Jordy dan Natasha akan menjelajahi kehidupan di Thailand, Laos, Vietnam, Tiongkok, Kazakhtan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Georgia, Turkiye, UEA, dan Malaysia.
Semoga Allah SWT memudahkan segala rencana kami. Aamiin.
Khao San Art Hotel, Bangkok
29 Desember 2025, pukul 07.28
Gol A Gong
Traveler, Author



