Oleh Gol A Gong
Bukan sekadar selempang. Ada tanggung jawab di dalamnya.
Kata Bapak, “Jangan terlalu banyak menasihati. Tunjukkan saja manfaatnya. Jika kamu ingin bicara buku, contohkan manfaatnya buat kamu kepada orang-orang. Jadi ceramah atau nasihat terbaik kepada orang-orang adalah dengan cara menunjukkan manfaaudan tentu perilaku sehari-hari.”
Begitulah, Bapak. Sayangnya, Bapak tidak menyaksikan saya dikukuhkan sebagai Duta Baca Indonesia pada 30 April 2021. Jika Bapak masih hidup – wafat 17 Desember 2007, pasti akan terkenang satu peristiwa ketika saya pulang ke rumah dengan wajah sedih. Saat itu saya kelas 6 SD, 1976.

“Ada apa?”
“Ada yang meledek saya buntung.”
“Kamu buntung gak?”
“Kok Bapak bilang begitu?”
“Denger, ya. Jika kita memiliki kekurangan, kemudian sedih karena diledek orang, itu yang dimaui orang itu.”
“Saya harus bagaimana, Pak?”
“Kasih senyum. Tapi senyum kamu jangan asal senyum. Tapi senyum kamu harus diisi prestasi.”

Sejak itu Bapak menyuruh saya melakukan 3 hal:
- Bada salat subuh harus lari di alun-alun kota Serang.
- Di waktu luang harus baca buku
- Harus mendengarkan dongeng atau cerita sebelum tidur dari Emak
Sejak kelas 6 SD hingga kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung, saya melakukan 3 hal itu; olahraga (badminton), baca buku, dan mendengarkan cerita dari Emak dan dari siapa saja. Adakah hasilnya? Nanti saya ceritakan di status lain.


Di status ini, saya ingin fokus ke manfaat membaca buku:
- Memiliki wawasan baru dan ingin mendatangi setting lokasi yang ada di buku. Ingin keliling dunia.
- Jadi lupa bahwa saya berlengan satu. Hidup jadi lebih bersemangat.
- Jadi berdaya sehingga kualitas hidup saya jadi lebih baik.
- Jadi lebih berpikir logis. Lebih suka berdialog.
- Ingin jadi penulis.

Begitulah…
Tapi jika desas-desus Duta Baca Indonesia akan tidak ada lagi itu benar karena persoalan anggaran, betapa sayang.
Duta Baca Indonesia itu figur. Tokoh. Dan ketokohan itu penting. Masyarakat akan lebih mudah belajar dari ketokohan. di jelas manfaat buku kepada si tokoh. Ada banyak anak muda yang berdaya dan sukses gara-gara membaca. Semoga Perpustakaan Nasional RI tetap mempertahankan produk ikonik ini. Semangat selalu.
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia
*) Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat


