Catatan Pinggir Solo Traveler di Jayapura

            Saya menelusuri hotel murah di Jayapura, ternyata hotel-hotel “ramah” kantong cukup banyak tersedia di Jayapura. Mulai harga 200 ribuan masih ada, ya memang dengan fasilitas mirip rumahan. Jangan harap disambut resepsionis muda dan cantik jelita. Untuk para backpacker, pelancong lagi “gabut”, Jayapura adalah kota yang ramah. Solo Traveler membuat saya merdeka makan di warung kaki lima, menginap di hotel super murah, atau jogging pagi hari di kota tersebut sembari melihat aktifitas pejuang rupiah di subuh hari. Menjadi Solo Traveler harus berhati-hati. Banyak orang jahat diluar, kita juga harus esktra hati-hati. Kita bisa saja jadi korban kejahatan.

             Di Jayapura, salah satu tempat yang ingin saya kunjungi adalah stadion olahraga. Aneh bukan? Padahal sedang tidak ada pertandingan bola. Saya adalah penggemar bola, mantan pemain bola (tarkam), pemerhati sepak bola, penulis kolom sepak bola. Maka, bagi kami mengunjungi stadion bola di kota yang dikunjungi sama halnya seperti ziarah. Kalau sedang di Jayapura, tentu saja saya akan ingat klub sepak bola Persipura. Untuk diketahui, era professional Liga Indonesia dihitung sejak musim 1994-1995 sampai sekarang, berdasarkan hitungan, Persipura menjadi tim terbanyak yang meraih juara Liga Indonesia. Tercatat dalam sejarah, tim berjuluk Mutiara Hitam itu sudah meraih empat tropi kasta tertinggi Liga Indonesia.

            Saya berharap berkunjung ke Stadion Mandala Jayapura bertepatan dengan sesi latihan klub Persipura tersebut. Atau jika beruntung sedang ada pertandingan. Berfoto dengan pemain terkenal klub tersebut dengan latar markasnya adalah privilege yang istimewa bagi pecandu bola.   Menuju Stadion  Mandala saya naik angkot di depan kantor Gubernur Papua, tepatnya di Pantai Dok 2. Saya naik “taksi” (sebutan angkot di Jayapura) berwarna hijau. Angkot seperti ini sering saya lihat di tv atau film-film yang berlatar belakang Jayapura. Tidak lama, sekitar 20 menit saya sampai di gerbang stadion.

             “Tu di depan pak, Stadion Mandala,”ujar bang sopir. Setelah membayar ongkos 5000 rupiah, saya turun di tepi jalan. Namun saya tidak melihat langsung pemandangan tribun stadion. Tapi sebuah bangunan mirip super market. Ternyata itu adalah Wisma Atlet Mandala yang berdampingan dengan stadion. Stadion Mandala memang beberapa kali mengalami renovasi untuk mencapai standar internasional. Dari kapasitas 30.000 penonton menjadi 50.000 penonton. Stadion Mandala berada tepat di belakang Wisma Mandala. Namun, saya kurang beruntung. Tidak ada aktifitas sama sekali di stadion tersebut. Saya menelusuri gerbang masuk. Saya bertemu dengan dua bapak-bapak sedang bercengkrama, tidak seribet dan seketat di Stadion GBK, Jakarta.

Setelah meminta izin, bapak-bapak tersebut mempersilahkan saya masuk ke dalam stadion. Ternyata stadion ini lebih bagus dari apa yang saya pikirkan. Stadion Mandala Jayapura ternyata sudah berstandar internasional. Bahkan, rumput yang digunakan salah satu terbaik di Indonesia. Stadion ini bersih dan tertata. Terakhir stadion ini digunakan saat final PON antara Provinsi Papua melawan Provinsi Aceh yang dimenangkan oleh Provinsi Papua.

             Setelah berswafoto sebagai bukti otentik pernah ke sini, saya lanjut berkunjung ke kawasan Mall Jayapura. Kebetulan di seberang mall sedang ada Festival Kopi Papua. Di sini berkumpul anak-anak muda pecinta kopi. Festival tersebut menyita perhatian saya, sepertinya memang didukung penuh oleh pemerintah setempat. Saya melihat tenaga-tenaga terampil pemuda Papua menjadi barista. Saya bertemu Maikel anak muda Papua yang menjadi barista di salah satu stand festival tersebut. “Jayapura memang sedang demam kopi, warung-warung kopi tumbuh sangat banyak, untuk menjadi barista ada trainingnya, di Jayapura sering diadakan pelatihan barista,”ujar Maikel sambil menyiapkan pesanan kopi saya. Kopi Papua memang sedang naik daun. Salah satunya yang terkenal adalah Kopi Wamena. Kopi jenis Arabika ini tumbuh subur di wilayah ketinggian sekitar 15.000 kaki dari permukaan laut dengan suhu 20-25 derajat celsius. Konon kondisi wilayah seperti itu melahirkan kopi terbaik di dunia. Salah satu yang membuat Kopi Wamena menjadi khas adalah karena proses alami budidayanya.

            Usai minum kopi di festival tersebut saya berkeliling kota dengan angkot. Saya melihat sopir-sopir angkot banyak berusia uzur. Seharusnya mereka sudah istirahat dan menikmati hari tua. Tapi di usia itu mereka masih membanting tulang dan otot mereka, tidak mau menyerah dari serangan transportasi online seperti Grab. Keringat dan peluh yang menempel dibaju bapak tersebut seakan berbicara banyak hal tentang perjalanan hidupnya. Saya memperhatikan gedung-gedung di jantung kota Jayapura. Gedung bagi saya simbol geliat ekonomi kota. Sebuah bangunan 14 lantai yang sedang dibangun berbentuk selinder begitu menyita perhatian orang yang sedang melintas. Gedung tersebut sepanjang pengamatan saya adalah gedung yang paling besar dan tinggi di Jayapura. Gedung tersebut ternyata adalah gedung Majelis Rakyat Papua (MRP) yang sedang dibangun.

             Menemukan gedung berlantai lima atau sepuluh di Jayapura tidaklah sulit. Jayapura memang sudah menjadi kota besar, saya memotret gedung-gedung tinggi itu. Lanjut, saya melintas di pusat ekonomi Jalan Ahmad Yani, Jayapura. Saya sengaja berjalan kaki sampai telapak kaki saya melepuh karena gesekan sepatu. Saya bersentuhan dengan warga. Melihat transaksi di pasar tradisional, berbincang dengan mama-mama Papua penjual pisang dan pinang di trotoar di Jalan Ahmad Yani. Saya membeli satu sisir pisang yang dijajakan Mama Yolanda (42) sambil bercerita dengannya. “Saya sudah lama berjualan seperti ini, kadang menjual pisang, pinang dan noken, puji tuhan bisa untuk biaya kuliah anak saya di Uncen,”ujar Mama Yolanda. Waktu pelaksanaan PON XX Papua Oktober 2021 lalu, Mama Yolanda ikut ketiban untung, ia mampu menjual nokennya hingga 3 kali lipat.

            Berkeliling Jayapura hari itu terasa singkat. Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Saya menghempaskan badan di kamar hotel. Perjalanan ini membuat saya ingin banyak bersyukur, saya merasa hanyalah orang yang beruntung, semoga dijauhkan dari segala bentuk kesombongan.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==