Cerpen-cerpen Budi Darma selalu menarik untuk dibaca. Tema-tema yang diangkat cenderung pada persoalan kemanusiaan. Kisah sehari-hari, atau tentang laku hidup orang-orang kecil yang ada di sekitar kita. Tapi, kisah-kisah itu, jika dituliskan oleh tangan seorang Budi Darma, selalu bisa menghipnotis saya untuk mengikuti kisahnya hingga akhir.

Cerpen PBPK berkisah tentang pertemuan antara penyair besar dan penyair kecil yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Kisah itu bermula ketika penyair besar diundang dalam satu kegiatan sastra. Saat penyair besar turun dari Stasiun Gubeng, dan disambut panitia acara untuk mengantarkannya di Hotel Simpang, karena besok, penyair besar mesti memberikan cermah. Saat panitia hendak mengantar penyair besar, tiba-tiba datang penyair kecil, yang merupakan teman lama penyair besar. Tentu saja penyair besar senang bertemu dengan teman lamanya. Lalu penyair kecil memaksa kepada panitia untuk membawa penyair besar ikut ke tempatnya. Panitia pun mengalah.

Akhirnya penyair besar menginap di kamar penyair kecil. Tujuannya agar penyair kecil bisa mengobrol dan meminta nasehat pada penyair besar sekaligus ingin menunjukkan puisi-puisinya yang berim-rim itu. Obrolan pun semakin menjurus pada inti persoalan cerita. Sampai di sini saya ingin mengatakan, cerpen-cerpen Budi Darma selalu padat menceritakan pada pokok persoalan tanpa banyak mengumbar dialog-dialog atau narasi yang tak penting.

Dalam cerpen ini digambarkan penyair kecil sebagai sosok yang ‘terbuang’ dari kegiatan sasta di kotanya. Karena penyair kecil tidak dijadikan salah satu panitia, dia mengomel kepada penyair besar.
“Panitia itu memang kurang ajar,” kata penyair kecil. “Mereka itu orang-orang yang sebetulnya tidak tahu sastra. Sebagian mereka menganggap bahwa sastra sama dengan politik. Sebagian mereka menganggap bahwa sastra sama dengan ludruk atau ketoprak, seni rakyat yang tidak intelektuil itu. Belum lagi korupsi yang mereka lakukan. Mereka berusaha untuk menyambut kau besar-besaran, diinapkan di hotel segala itu perlunya untuk korupsi. Itulah kalau orang tidak tahu apa itu sastra sebenarnya, dan tidak tahu apresiasi sastra yang sebenarnya. Kalau mereka betul-betul tahu sastra, mereka pasti minta pendapatku juga. Mereka seharusnya juga memasukkan aku sebagai anggota panitia. Tapi karena mereka tidak punya apresiasi sastra yang benar, mereka tidak tahu siapa aku, dan tidak mengajak aku dalam panitia.” (Hal 21).

Saat penyair kecil bicara panjang lebar, penyair besar langsung mengajukan pertanyaan: “Kau masih menulis puisi?” tanya penyair besar. Penyair kecil bilang dia masih menulis puisi. Dan salah satu tujuannya mengajak penyair besar tidur satu kamar itu karena penyair kecil ingin meminta nasehat dari penyair besar terkait puisi-puisi yang ditulisnya. Peyair kecil memberikan beberapa rim kertas yang berisikan puisi-puisinya dengan tulisan tangan. Tentu saja penyair besar heran melihat penyair kecil produktif menulis.


